Archive for January, 2010
Written by Redaksi on 27 January 2010
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya, bangsa yang dianugerahi banyak kelebihan oleh Allah dibanding bangsa lain. Baik karunia yang ada di perut bumi, di atas daratan, maupun di udara dan di segala penjuru mata angin bumi Indonesia. Karunia akal budi, daya kreatifitas yang dianugerahkan oleh Allah kepada pribadi-pribadi bangsa Indonesia juga jauh di atas bangsa lain. Namun, kadang kala penghargaan, penghormatan dan rasa kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia yang masih kurang.
BATIK adalah salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, alhamdulillah telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Sudah sepatutnya, kita bangga dan melestarikan salah satu kekayaan bangsa Indonesia ini. Mari kita jadikan batik ini sebagai ikon bangsa Indonesia, kita jadikan batik ini adalah pakaian nasional, pakaian sehari-hari kita, bukan lagi sebagai pakaian sakral yang harus dikenakan pada acara-acara tertentu saja.
Dari Ujung Timur sampai Barat Indonesia, hampir seluruh daerah memiliki corak batik masing-masing. Dari Medan, Padang, Palembang, Cirebon, Pekalongan, Jogjakarta, Surakarta, Lasem, Tuban, Sidoarjo, Tulungagung, Kalimantan, Bali, Lombok, sampai Madura dan tentu saja masih banyak yang lainnya. Masing-masing memiliki karakteristiknya, daerah pesisir pantai memiliki kekhasan yang lain dari yang non pesisir. Daerah pesisir, karena memang dahulu relatif lebih sering berinteraksi dengan dunia luar, maka hal ini juga berpengaruh terhadap corak batiknya. Corak batik daerah pesisir lebih berani, dengan corak-corak yang bebas tanpa memiliki pakem ditambah dengan dominan warna yang menyala, sedangkan batik daerah ‘tengah’ masih memegang teguh pakem yang diturunkan dari nenek moyang. Corak-corak batik pesisir bisa kita temui di daerah Cirebon, Pekalongan, Tuban, Lasem dan Madura, sedangkan corak batik yang masih setia dengan pakem dapat dicontohkan dari batik Jogja dan Surakarta, walaupun akhir-akhir ini batik Surakarta juga sudah berakulturasi dan mencoba akomodatif dengan permintaan pasar.
Khusus untuk batik Madura, kita bisa temukan corak-corak yang beragam pula bahkan untuk setiap kota memiliki kekhasan masing-masing. Batik Tanjungbumi, Bangkalan berbeda dengan batik Pamekasan maupun Sumenep. Batik Tanjungbumi lebih tegas dalam menunjukkan jati dirinya sebagai batik khas pesisir, sedangkan batik Pamekasan maupun Sumenep lebih kaya dalam corak dan penggunaan warna-warna kalem juga semakin jamak.
Butik Kitab Batik mengkhususkan diri dalam penyediaan BATIK TULIS sebagai penghargaan terhadap karya seni luhur bangsa Indonesia. Saat ini Batik Tulis yang kami sediakan adalah Batik Tulis Pamekasan dan Lasem. Semua proses pewarnaan Batik Tulis menggunakan bahan-bahan alami (kulit kayu maupun akar pohon) sebagai bahan pewarna sehingga sangat nyaman dan aman digunakan sebagai pakaian sehari-hari.
Saat ini, Anda tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke Madura maupun Lasem-Jawa Tengah untuk berburu dan mengoleksi batik-batik tulis. Anda bisa mendapatkannya di sini dengan harga affordable !! Batik tulis yang kami sediakan adalah batik tulis kualitas tinggi dan berada pada levelnya sendiri, semua desain coraknya cantik, eksklusif dan sangat cocok bagi Anda yang ingin tampil beda dan modis.
Segera hubungi kami (kami melayani pembelian eceran maupun grosir):
www.superbambang.co.cc
email: superbambang@gmail.com
081213009076
Tags: batik, jatim, kain, kain batik, pamekasan
Posted in Pijar Jawa Timur | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
Sebelum dipamerkan kepada publik Jakarta, trofi Piala Dunia dibawa ke Istana Kepresidenan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kehadiran trofi memotivasi bangsa Indonesia.
Trofi tersebut dibawa ke halaman kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Veteran, Jakarta, pada Senin (25/1/2010) siang. Turut menyertai adalah sejumlah pejabat dari FIFA dan PSSI, termasuk Ketua Umumnya, Nurdin Halid.
“Kita mendapatkan kehormatan untuk kehadiran tur trofi Piala Dunia ini. Semoga peristiwa ini bisa memberikan inspirasi serta memberikan semangat dan tekad untuk meningkatkan prestasi olahraga sepakbola Indonesia,” kata Presiden dalam sambutannya.
Presiden SBY percaya, kehadiran trofi yang akan diperebutkan oleh 32 negara di Afrika Selatan bulan Juni-Juli nanti itu dapat memberikan inspirasi untuk meningkatkan prestasi sepakbola.
“Saya percaya kepada PSSI, bangsa kita di masa depan bisa meningkatkan prestasi sepakbola. Insya Allah kita nanti bisa lolos ke Piala Dunia, suatu saat nanti,” imbuh Presiden.
Dalam acara tersebut, Presiden SBY diberi kehormatan untuk menyentuh trofi Piala Dunia. Saat diabadikan gambarnya oleh para jurnalis, orang nomor satu Indonesia itu tampak tersenyum.
Mengenai pergelaran Piala Dunia di Afsel pertengahan tahun ini, Presiden SBY berharap agar penyelenaggaraan pesta sepakbola empat tahunan itu dapat berlangsung lancar dan sukses.
“Terimalah salah dari pencinta sepakbola di Indonesia,” kata SBY.
Seusai sambutan tersebut, para jurnalis diberi kesempatan untuk berfoto dengan trofi Piala Dunia sebelum trofi setinggi 36 cm dan berat 5 kg itu dibawa pergi dari halaman Kantor Presiden.
Tags: bola, olah raga, piala dunia, trofi
Posted in Nasional | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
Masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, memiliki tiga jenis rumah adat, satu di antaranya “kombo” yang berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi laki-laki remaja.
Kepala Balai Arkeologi Jayapura, M.Irfan Mahmud,MSi di Jayapura, mengatakan, di dalam rumah tradisional “kombo” itulah, masyarakat Sentani mengembangkan nilai-nilai budaya yang mereka miliki.
“Masyarakat Sentani mengenal tiga jenis bangunan rumah yang masing-masing memiliki fungsi dan aturan kebiasaan,” katanya.
Dia menjelaskan, kombo adalah rumah adat yang berfungsi sebagai asrama, ruang atau tempat di mana para remaja lelaki diajarkan mengenai nilai-nilai religi dan pendidikan serta keterampilan hidup.
Irfan mengatakan, di dalam kombo inilah, para remaja suku Sentani diajarkan mengenai asal usul dewa yang disembah, keberadaan roh-roh dan arwah nenek moyang mereka.
Selain itu, mereka juga diajarkan cara berburu, mengenali dan menggunakan peralatan berburu, berkebun, menokok sagu, memancing serta berperang.
“Itu semua merupakan `life skill` atau keterampilan hidup yang harus dikuasai sebagai bekal hidup, terutama bagi laki-laki sebagai pemimpin di masyarakat dan keluarga agar siap dalam menangani kehidupan mereka selanjutnya,” ujar Irfan.
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan perilaku dan sikap, juga menjadi materi pendidikan yang diajarkan di rumah tradisional kombo yaitu kedisiplinan, saling menghormati, tolong menolong dan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.
Pendidikan yang dilakukan di kombo, kata dia, hanya ditujukan bagi anak remaja laki-laki, sementara anak perempuan tetap ditempatkan bersama orang tua. Pendidikan yang dilakukan di kombo hanya pada malam hari dan berlangsung selama satu tahun.
Untuk bisa keluar dari kombo, Irfan mengatakan, para remaja harus melalui masa ujian di hadapan “ondofolo” (kepala suku).
“Jika ada remaja yang belum memenuhi standar pendidikan, maka dia harus kembali masuk ke kombo sampai dipandang mahir. Sedangkan yang lulus maka mereka dipandang sudah dewasa dan bisa menerima tanggung jawab sosial seperti menikah,” katanya.
Pada masa kini, remaja laki-laki sudah tidak lagi melalui masa inisiasi di kombo. Seiring dengan jalannya pembangunan, pendidikan bagi seluruh anak-anak Sentani dilakukan di sekolah formal milik pemerintah.
Selain kombo, masyarakat Sentani mengenal rumah “obee” sebagai balai adat dan “khogo” untuk rumah tinggal.
Tags: kombo, papua, sentani
Posted in Pijar Papua | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
Pakar lingkungan hidup dari Institut Pertanian Bogor Prof Dr Surjono Hadi Sutjahjo, MS mengatakan, konsep hutan di tengah kota perlu diadopsi dan dikembangkan oleh setiap daerah sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Surjono yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Sekolah Pascasarjana Instut Pertanian Bogor (IPB) mengemukakan, keseimbangan ekosistem harus dibangun agar tidak terjadi kerusakan yang membawa malapetaka.
“Konsep hutan kota sangat baik kalau dikembangkan setiap daerah, karena akan menjaga keseimbangan ekosistem sehingga terwujud harmoni dan stabilitas lingkungan,” katanya.
Ia mengatakan, ekosistem pada suatu daerah akan baik dan seimbang bila memperhatikan empat hal yaitu adanya keanekaragaman hayati, adanya saling keterikatan dan saling ketergantungan, adanya keteraturan dan keseimbangan yang dinamis serta adanya harmonisasi dan stabilitas antarunsur terkait.
Menurut dia, prinsip pengelolaan lingkungan yang baik harus mengacu kepada pencegahan dan penanggulangan terhadap penurunan serta kerusakan kualitas lingkungan akibat terganggunya maupun rusaknya ekosistem.
“Hutan kota dapat menjadi salah satu wahana yang efektif dalam mencegah dan menanggulangi penurunan kualitas lingkungan,” katanya.
Selain perlunya pembangunan hutan kota oleh masing-masing daerah, Surjono juga menyarankan agar setiap Pemda menjadikan dinas lingkungan di daerah masing-masing sebagai salah satu unit kerja strategis, bukan sebatas menjadi alat pelengkap unit kerja.
“Persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, namun tanggung jawab bersama. Terutama pemerintah daerah berada pada garda terdepan dalam misi penyelamatan lingkungan. Karena itu, lingkungan harus dijadikan isu strategis masing-masing daerah,” katanya.
Pengelolaan lingkungan dan perlindungan ekosistem, kata dia, sangat bergantung kepada kebijakan penataan, pemanfaatan dan pengembangan serta pemeliharaan dan pemulihan.
Selain itu, terkait juga dengan pengawasan dan pengendalian, keamanan dan ketertiban masyarakat serta pertahanan dan kemanan nasional, demikian Surjono Hadi Sutjahjo.
Tags: Hutan, Pakar, Tumbuhan
Posted in Pijar Jabar | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
(Vibizdaily-Polhukam)Puluhan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) demo menolak pemberlakukan Asean Chinese Free Trade Agreement (AC-FTA). Mereka menilai, AC-FTA akan melumpuhkan sektor industri lokal Indonesia.
Aksi itu digelar KAMMI DIY di Tugu
mulai pukul 14.00 WIB, Senin (25/1/2010). Aksi diikuti perwakilan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta.
Di tengah padatnya arus lalu-lintas siang itu, massa menggelar orasi secara bergantian. Selain membawa bendera lambang organisasi, massa juga mengusung beberapa poster, di antaranya bertuliskan ‘Tolak AC-FTA, Selamatkan UKM, AC-FTA sengsarakan buruh’. Saat menggelar aksi itu, mereka juga meneriakkan yel-yel ‘Tolak AC-FTA’.
Koordinator aksi Agus Purnomo dalam orasinya mengatakan kebijakan AC-FTA akan menghancurkan sektor perekonomian Indonesia terutama sektor UMKM. Hal itu disebabkan masuknya ribuan produk asal China ke Indonesia tanpa adanya bea atau tarif nol persen.
“Sebelum adanya tarif nol persen saja, produk Cina sudah banyak yang masuk ke pasaran Indonesia, apalagi kalau sudah bebas bea,” ungkap Agus.
Dia mengatakan industri lokal Indonesia belum semuanya siap menghadapi persaingan pasar bebas seperti itu. Dia mengkhawatirkan industri lokal terutama produk-produk UKM dan manufaktur akan mengalami kebangkrutan dan kolaps karena tidak mampu bersaing.
“Efek lain dari perjanjian ini adalah PHK terhadap kaum buruh sehingga akan menambah banyak jumlah pengangguran di Indonesia,” katanya.
Agus mengatakan pemerintah untuk meninjau ulang perjanjian tersebut demi menyelamatkan sektor perekonomian dan menyelamatkan buruh dari ancaman PHK.
“Kami menolak AC-FTA. Pemerintah harus memberikan proteksi terhadap produksi dalam negeri,” katanya.
Tags: aksi, mahasiswa
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
Pamekasan - Sebanyak 32 ribu dari total 72 ribu desa di Indonesia masih termasuk sebagai kategori desa tertinggal.
Saat melakukan kunjungan kerja di pendopo Pemkab Pamekasan, Madura, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, Senin, mengatakan, desa yang masuk kategori tertinggal jika angka kemiskinan penduduknya masih berada diatas angka kemiskinan nasional, yakni 14 persen.
“Pamekasan, merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang masuk kategori daerah tertinggal karena penduduk meskinnya diatas 14 persen,” kata Helmy, Senin.
Di Indonesia, kata Helmy yang juga menjabat sebagai Wasekjend DPP PKB ini, jumlah pendudukan miskin masih mencapai angkat 32,5 juta jiwa, tersebar di berbagai Provinsi.
Sedangkan warga yang sampai saat ini belum mendapatkan pekerjaan atau menganggur sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 9,2 juta jiwa.
“Angka ini menunjukkan bahwa masih sangat banyak penduduk Indonesia yang pengangguran,” katanya.
Oleh sebab itu, sambung Helmy Faishal, kementerian PDT ke depan akan membuat program pengembangan dan pembangunan kawasan desa terpadu, sebagai upaya untuk menekan angka kemiskinan dan meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di perdesaan.
Bersama sejumlah kementerian dan departemen di tingkat pusat, kata Helmy, saat ini pihaknya sudah melakukan koordinasi intensif untuk meningkat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat perdesaan, terutama menyangkut pengembangan ekonomi kerakyataan.
Read the rest of this entry »
Tags: daerah jatim, desa tertinggal, pamekasan
Posted in Pijar Jawa Timur | 1 Comment »
Written by Redaksi on 22 January 2010
Kasus sengketa tanah antara Perhutani dan rakyat di Jawa Timur cukup marak, khususnya di Kabupaten Trenggalek.
Perhutani KPH Kediri dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Trenggalek mendata setidaknya ada 25 kasus sengketa tanah antara Perhutani dan rakyat dalam satu dasawarsa (1999-2009). Dari jumlah tersebut dua di antaranya sedang dan tuntas proses persidangan.
Pertama, kasus sengketa di Desa Tanggaran, Kecamatan Pule, dengan Perhutani. Kedua, sengketa antara warga Ngerdani, Kecamatan Dongko, dengan Perhutani.
Di Desa Ngerdani terbit lebih dari 400 sertifikat tanah. Inilah yang membuat Perhutani tidak bisa menerima, lantaran mereka mengklaim lahan yang disertifikatkan merupakan milik Perhutani. Sebaliknya, warga menilai itu adalah tanah negara yang sudah turun temurun diolah warga setempat.
Sengketa Ngerdani menjadi kasus nasional. Pasalnya penerbitan sertifikat oleh BPN Trenggalek ini setelah ada penetapan dari BPN pusat. Intinya, lahan di Desa Ngerdani merupakan tanah negara bebas. Hingga akhirnya pada Februari 2002 keluar sebanyak lebih dari 400 sertifikat tanah.
Tingginya kasus “penyerobotan” tanah milik negara yang dikelola oleh Perhutani di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, selama kurun tahun 1999-2009, ternyata tidak berbanding lurus dengan kasus pidana yang ditangani aparat penegak hukum setempat.
Indikasinya, dari total 2.700 hektare tanah hutan negara yang dinyatakan dalam proses sengketa oleh Perum Perhutani, hanya dua kasus dengan tiga terdakwa/terpidana yang sampai saat ini diproses oleh Pengadilan Negeri Trenggalek.
“Selama ini memang hanya dua kasus itu, belum ada kasus baru,” kata Humas PN Trenggalek Iwan hari Winarto.
Pernyataan Humas PN Trenggalek ini sama persis dengan apa yang disampaikan oleh Kaur Bina Operasi (KBO) Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Trenggalek, Iptu Khairil.
Dia bilang, pihaknya selama ini baru menangani dua kasus tersebut karena pengaduan terkait sengketa tanah antara Perhutani dengan warga, selama ini sangat minim.
“Kepolisian tidak bisa serta merta melakukan penyelidikan ataupun penyidikan jika tidak mendapat laporan dari Perhutani,” paparnya.
Dia mengakui, kasus penyerobotan tanah yang masuk kategori hutan negara oleh masyarakat di Kabupaten Trenggalek cukup tinggi.
Tetapi mengingat data mengenai tanah aset negara tersebut yang mengetahui hanya Perhutani, polisi tidak bisa berbuat gegabah dengan menindaklanjuti setiap dugaan penyerobotan tanah.
“Kasus semacam ini (penyerobotan lahan hutan oleh rakyat) memang bukan masuk kategori delik aduan. Tapi jika tidak ada pemberitahuan atau pengaduan langsung dari mereka (Perhutani), polisi tentu tidak bisa berbuat banyak,” ucap mantan KBO Reskrim Polres Tulungagung ini.
Dua kasus dimaksud masing-masing adalah kasus tanah hutan negara yang diklaim Perhutani telah serobot warga di Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, serta lahan hutan negara di Desa Tanggaran, Kecamatan Pule.
Untuk lahan hutan yang dikelola Perhutani di Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, dua terdakwa atas nama Pairin (Kepala Desa Ngerdani) dan Paimin (Kepala SD di Ngerdani) telah divonis masing-masing selama 18 bulan dan 12 bulan oleh PN Trenggalek pada tahun 2008.
Read the rest of this entry »
Tags: berita jawa timur, olah berita jatim, treanggalek
Posted in Pijar Jawa Timur | 3 Comments »
Written by Redaksi on 21 January 2010
Visit Batam 2010
Kota Batam selama ini telah tumbuh dan berkembang dalam tiga pilar utama investasi yakni industri, perdagangan dan periwisata. Model (I-ITT: Investment in Industry, Trade and Tourism) di Kota metropol ini dilaksanakan secara terintegrasi, komprehensif dan berkelanjutan (sustainable development). Pengembangan kepariwisataan Batam telah masuk dalam agenda bersama (joint actions-roadmap) kerjasama serantau (regional economic cooperation) baik dalam rangka kerjasama IMS-GT (Indonesia-Malaisia-Singapore Economic Growth Triangle) 1990, Kerjasama Ekonomi SIJORI (Singapore Johor Riau) 1992 maupun yang terakhir tahun 2006 malalui “Fremework Agreement on the Economic Growth Triangle in the Islands of Batam, Bintan and karimun, Province of Kepulauan Riau”.
Dimensi keparawisataan sudah masuk dalam sekenario pembanguna semenjak tahun 1978. Kedudukan Batam sebagai kota pantai (coastal city) dengan status Kewawasan Berikat (bonded-zone) diperkuat sebagai “transit point” alih kapal dan pusat distribusi logistik (transshipment center and logistic base) berkelorasi positif dengan arahan kebijakan kepariwisataan baik pergerakan orang (leisure-business tourism), uang (capital flow-outflow) dari barang (exported-imported products). Oleh karenanya pengembangan kepariwisataan harus masuk dalam parameter potensi dan efektifitas ekonomi pasar lokal yang berpotensi ekspor untuk masuk ke pasar globa. Efisiensi ekonomi Kota membuka berkembangnya destinasi wisata yang efektif. pengembangan kepariwisataan juga saling berkorelasi dan berimplikasi pada sektor perdagangan. Kedudukan Batam sebagai sentra perdagangan serantau (regional trading entrepot) merangsang orang untuk berbisnis dan berwisata.
Dari sisi geo-ekonomi perbatasan, kebijakan spesial ekonomi pembangunan secara makro sangat berkaitan dengan pengembangan pariwisata. didukung kebijakan perdagangan industri berbasis ekspor (export-led industrialization) didukung kebijakan perdagangan yang berakses international, tentunya diperkuat dengan kebijakan dibidang kepariwisataan. Penerapan Batam sebagai sentra utama FTZ (UU.No.44 2007 dan PP.No.46/2007) juga memprioritaskan sektor pariwisata sebagai salah satu fungsi utama kawasan (FTZ). Selanjutnya revitalisasi strategi ekonomi di era FTZ juga berlaku untuk optimilisasi sektor pariwisataan melalui :
1. Peningkatan investasi pemerintah dibidang infrastruktur pendukung
2. Perluasan investasi swasta dalam bidang fasilitas kepariwisataan
3. membangun koridor keamanan dan kenyamanan berinvestasi dan termasuk di kawasan destinasi wisata
4. melalukan promosi masal dan revisi strategi penganggaran untuk pendukung promosi tersebut
5. Bekerjasama dengan negara sahabat melalui kedutaan Besar dan Perwakilan Dadang.
apalagi singapura untuk saling memperkuat sektor kepariwisataan melalui berbarai iven promosi dan eksibilisi.
Untuk memperkuat pengembangan wisata sebagai investasi strategis khususnya di Batam, dapat memanfaatkan Forum “ministerial roundtable discussion” yang dilakukan baik oleh JSC (Joint Steering Committee) and JWG (Joint Working Group) tentang pengembangan Batam Bintan Karimun bersama Tim National KEKI (Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia). karena salah satu dari 57 egenda yang dibahas secara bersama-sama (joint actions road map) adalah strategi bersama promosi investasi.
Pengembangan kepariwisataan ( Visit Batam 2010 ) dalam konteks perencanaan ekonomi spesial yang menempatkan posisi strategis sebagai faktor penguat adalah adanya upaya Pemerintah untuk mengeluarkan dana yang cukup untuk pembangunan infrastruktur (big push approach).
Read the rest of this entry »
Posted in Pijar Kepri | No Comments »
Written by Redaksi on 21 January 2010
(Berita Daerah – Jawa) – Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor yang berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara sektor pariwisata dengan sektor perikanan dan sektor pertanian. Sektor pariwisata merupakan potensi yang diandalkan dalam analisis penelitian ini.
Berdasarkan analisis konsep wilayah, perbandingan potensi pariwisata antar wilayah di Pulau Jawa, ditemukan potensi wisata yang sesuai dibangun dan dilestarikan di Kabupaten Pacitan, yakni Learning Center batik Indonesia terintegrasi dengan wisata Pantai Pacitan. Di dalam penelitian ini juga dianalisis upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah pacitan dalam mengembangkan potensi wisata hingga saat ini. Akses wilayah, infrastruktur, akomodasi, regulasi, dan warisan budaya batik tulis merupakan indikator ynag digunakan dalam penelitian ini. Data yang digunakan adalah adalah data sekunder, dan analisis deskriptif yang diolah dari jurnal ilmiah, data pemerintah daerah, dan media wisata. Pada akhirnya, peran pemerintah, swasta dan masyarakat yang berhubungan langsung dengan pengelolaan potensi wisata pacitan, sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan warga Pacitan dan sekaligus untuk melestarikan warisan budaya Indonesia.
Baca Selengkapnya disini
Posted in Pijar Jawa Timur | 1 Comment »
Written by Redaksi on 13 January 2010
Asal mula nama
Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten. Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.
Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.
Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.
Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.
Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.
Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.
Hari jadi
Daerah Kabupaten Klaten semula adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Read the rest of this entry »
Posted in Pijar Klaten | No Comments »