Archive for March 17th, 2010
Written by Redaksi on 17 March 2010
Bagi penderita yang sudah tidak mempunyai pilihan, adalah tidak salah mencobanya, mudah-mudahan membuahkan hasil seperti yang tertulis di artikel ini. Pengerasan hati, ternyata bisa ditolong (kirim sebanyak-banyaknya) (pusaka yang tak ternilai) keajaiban baru jus buah segar. Pendeta meditasi senior di Jepang Fu Ze Zhi Fang, mengusulkan pengobatan dengan kentang, tercatat berkasiat obat secara ajaib
Kentang, Wortel, Apel, jus segar campuran 3 in 1 berkasiat:
- Mencegah dan mengobati kanker, menekan pertumbuhan sel kanker.
- Mencegah dan mengobati penyakit hati, ginjal, pancreas, bisul lambung (gastric ulcer).
- Mencegah dan mengobati bentuk infeksi pernafasan yg bukan type tertentu .
- Mengembalikan stamina tubuh, menguatkan kualitas tubuh, meningkatkan imunitas dan daya penyembuhan diri.
- Mengembalikan kondisi semula dari kelelahan mata, menghilangkan kekeringan mata, sehingga mata indah bersinar.
- Mengobati sakit pinggang, sakit pundak, sakit lutut.
- Mengeluarkan zat racun dari tubuh, mempercantik dan melembabkan permukaan kulit, mengontrol kegemukan
- Menuntaskan konstipasi, wasir, bau mulut tuntas diobati, asam lambung, mengurangi rasa sakit karena datang bulan.
KEUNGGULAN :
Read the rest of this entry »
Tags: apel, herbal, hidup sehat, jus, kentang, minuman kesehatan, wortel
Posted in Environment | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Jagung adalah salah satu tanaman pangan yang populer di indonesia. Selain enak untuk direbus, dibakar, atau dijadikan brondong jagung, jagung yang masih muda ternyata memiliki khasiat luar biasa. Selain buah/daging jagung muda tersebut, rambut jagung tersebut memiliki khasiat juga untuk kesehatan.
Beberapa jenis penyakit yang dipercaya dapt disembuhkan oleh jagung muda ini adalah: Batu ginjal, Batu Empedu, tekanan darah tinggi. Air rebusan tongkol dan rambut jagung muda dapat melarutkan batu ginjal. Selain itu, seduhan itu juga berguna mengobati penyakit batu empedu, dan tekanan darah tinggi.
Batu Ginjal
Bahan: Jagung muda 4 tongkol, Rambut Jagung 1 genggam, Daun Keji Beling segar 8 helai
Cara pembuatan: Semua bahan direbus dalam 110 ml air. Air rebusan diminum sehari sekali, selama 14 hari. Setelah batu keluar, baik berupa kerikil, butiran maupun buih, pengobatan harus segera dihentikan, kemudian diteruskan dengan minum Jamu Kumis Kucing dan Meniran. Caranya, ambil masing-masing 30 gr daun meniran dan daun kumis kucing, diseduh seperti teh.
Batu Empedu
Bahan: Jagung muda 5 tongkol, Herba Kumis Kucing segar 5 gram
Cara pembuatan: Semua bahan direbus dengan 110 ml air. Air rebusan diminum sehari sekali, selama 14 hari.
Tekanan Darah Tinggi
Bahan: Jagung muda 5-7 tongkol, Rambut Jagung 1 genggam
Cara pembuatan: Semua bahan direbus dengan 110 ml air. Air rebusan diminum sehari sekali, selama 7 hari.
Yang harus Anda perhatikan, jangan terlalu banyak menggunakan rambut jagung sebagai obat, karena dapat menurunkan tekanan darah secara drastis dalam waktu singkat.
Untuk Membersihkan Fleks Hitam Di Wajah
Description:
Jagung muda yang biasanya dimasak untuk menjadi makanan yang enak, ternyata punya manfaat lain yaitu sebagai penghilang bercak-bercak hitam pada wajah akibat bekas jerawat atau penyakit cangkrang.
Menghilangkan bercak-bercak hitam dengan jagung yang sudah dihaluskan ini tidak menimbulkan efek sampingan loh… selain jagung mudah didapatkan, harganyapun murah daripada beli obat-obat atau kosmetik yang harganya mahal dan terkadang masih menimbulkan efek samping bagi kulit yang sensitif.
Silahkan di coba, semoga bermanfaat..
Ingredients:
Satu buah jagung muda
Directions:
- Jagung dikupas kulitnya, dicuci.
- Jagung diparut atau dihaluskan.
- Oleskan hasil parutan jagung yang sudah halus tersebut pada wajah yang terdapat bercak-bercak hitam. Bisa dioleskan ke seluruh permukaan wajah seperti menggunakan masker.
- Diamkan sekitar 15 – 30 menit, sampai mengering.
- Bersihkan olesan jagung pada wajah dengan air hangat.
- Lakukan sesering mungkin sampai bercak-bercak hitam menipis dan menghilang.
- Lihat hasilnya…. dan kulit wajah andapun kembali bersih dari bercak hitam dan menjadi cerah……
sumber:
Materi : http://lulukmaslachah.multiply. com
foto : http://rickydewangga99.blogspot.com
Tags: ginjal, jagung, obat
Posted in Environment, Nasional | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Disadur dari : http://andysyoekryamal.wordpress.com/2010/02/19/wow-bu-bupati-dan-pak-wakil-selingkuh/

ITULAH pertanyaan yang muncul di benak saya begitu membaca berita tentang beredarnya foto-foto seronok sepasang manusia yang menyerupai wajah Bupati dan Wakil Bupati Pekalongan, di Facebook, pada sebuah akun yang bernama Qomariyah Ponco.
Penasaran, saya langsung meluncur ke TKP untuk membuktikan kebenaran berita itu. Bahkan langsung saya tambahkan sebagai teman. Eeehh, tak lama kemudian pertemanan saya diterima dan saya bisa melihat semua foto-foto yang ada dalam akun tersebut.
Di profil akun tersebut, terdapat label yang berbunyi:
“Kemesraan modal awal membangun komitmen bersama untuk menjadi Bupati dan Wakil….berikut hobi menyalurkan birahi di hari valentine.”
Wowww…!!!
Tapi bukan itu yang membuat mata saya terbelalak. Melainkan foto profilnya itu loh! Tampak gambar sepasang manusia berlainan jenis yang nyaris telanjang. Di album itu juga terdapat 2 foto yang sedang berdekapan mesra dengan. Satu foto lainnya masih tampak berpakaian lengkap. Prianya tampak sudah berumur, kepalanya agak botak. Sedangkan wanitanya tampak masih muda, dan lumayan cantik. Oleh media, gambar keduanya disebut-sebut mirip Siti Qomariyah dan Wahyudi Pontjo Nugroho, yang tak lain adalah nama Bupati dan wakil Bupati Pekalongan, Jawa Tengah.
Read the rest of this entry »
Tags: afair, bupati pekalongan, facebook, selingkuh, wakil bupati
Posted in Nasional | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Hmmm…. Apa harus yang organik, ya?! Pakai yang daur ulang? Apa harus bebas polusi? Banyak menanam pohon dan tumbuh-tumbuhan? Bagaimana, sih, bercinta yang ramah lingkungan?
Ide tulisan ini berawal dari komentar saya di postingan Ferdi Xn tentang ““Marketing Yang Ramah Lingkungan”. Entah kenapa, pikiran saya langsung melejit mengingat Tarzan sedang bergelayutan di atas pohon sambil memeluk si Jane. Apa inikah yang dimaksud dengan bercinta ramah lingkungan? Hehehe…. Udah bocor kali, ya?!
Bisa jadi mungkin, ya!!! Bercinta di tengah-tengah hutan yang rindang dan tanpa menggunakan bahan kimia apapun bisa disebut dengan ramah lingkungan. Tidak ada, tuh, yang mananya kerudung karet ataupun segala jenis minyak-minyakan buatan pabrik. Apalagi yang bekas!!! Kalaupun ada mainan, pun, semuanya terbuat dari daun dan batang pepohonan. Waduh…!!! Persis kayak orang hutan, ya!!! Aaaaaauuuuuooooouuuooooo!!!
Sebetulnya, bercinta sendiri memang sudah ramah lingkungan, kok!!! Gimana nggak ramah lingkungan, wong tanpa sehelai benang pun!!! Kalaupun masih ada rajutan benang yang menempel, tetap saja ramah lingkungan. Soalnya, memang alami banget. Semua cairan yang keluar pun alami adanya, kan?
Memang, sih, terkadang juga bisa jadi nggak alami. Bisa jadi sebuah bentuk “pemaksaan”. Maksudnya, memaksakan diri gitu, lho!!! Bisa karena terpaksa. Bisa juga karena dipaksa. Bisa juga karena memang sudah kebutuhan mendasar. Mau hidup enak tanpa susah payah. Menjajakan cinta memang cara paling mudah. Apalagi kalau punya bekal yang alami. Cantik atau ganteng. Bertubuh mulus dan yahud. Waaahhh!!! Laris manis, deh!!!
Read the rest of this entry »
Tags: bercinta, Sex
Posted in Nasional | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Menangis tapi tidak keluar air mata. Buaya memang tidak bisa mengeluarkan air mata. Kalaupun mengeluarkan air mata, bukan air mata. Susah, deh!!! Apa karena otaknya cuma sebesar kacang tanah, ya?! Mungkin hatinya yang tidak jelas di mana.
Menggunakan dan memanfaatkan rasa iba serta kasihan sepertinya sudah bukan barang aneh lagi. Sudah sangat dieksploitasi malah. Coba saja perhatikan para pengemis di jalan, seperti yang diceritakan oleh cechgentong dalam tulisannya yang berjudul, “Jakarta Memang Gudang Uang” . Sungguh sangat menyedihkan melihat orang tua yang juga mendidik dan menjadikan anak-anak mereka memelas belas kasihan. Tak sedikit yang sampai mengeluarkan air mata buaya agar mendapatkan uang lembaran kertas. Menyedihkan sekali!!!
Media massa menurut saya sangat berperan dalam hal ini. Selalu saja memenangkan kaum yang lebih sederhana ataupun para kaum marjinal. Sedih, sih, sedih. Sakit, ya, sakit juga. Namun, tidak selamanya mereka harus dibela. Kalau mereka salah, harus dibilang salah. Tidak boleh dibilang benar hanya karena alasan kemiskinan dan kemelaratan serta kesalahan pemerintah di dalam mengelola negara saja. Tidak semuanya selalu benar adanya. Ini bukannya mendidik, tetapi malah menjerumuskan. Mereka juga harus diberitahu mana yang salah dan mana yang benar. Bukan hanya diberi belas kasihan. Mereka menjadi manja dan sangat tergantung. Tidak mau juga lepas dari lingkaran mereka. Bagaimana nasib mereka kemudian?! Bagaimana nasib anak-anak mereka?! Apa nggak kasihan kalau mereka juga selalu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang memang membutuhkan jasa mereka untuk melakukan hal-hal dan perbuatan yang tidak baik?! Nanti jadi berputar-putar terus, nih!!!
Seorang perempuan muda pernah saya wawancarai. Dia biasanya menjadi pengemis jalanan di Jakarta dan biasanya juga mangkal di daerah seputar UKI. Tadinya saya hanya sekedar iseng saja, karena kebetulan sedang mewawancarai beberapa ibu-ibu perkasa di sana yang menjual jasa menukarkan uang untuk para kondektur bus yang membutuhkan uang dalam nominal lebih kecil. Dia tiba-tiba saja ikutan bergabung, dan mulailah saya bertanya-tanya. Menarik,soalnya. Dia sedang hamil waktu itu.
Wajahnya sangat memelas. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dia pun mulailah bercerita tentang kehidupannya. Yah, tidak jauhlah dari segala kesusahan dan kepedihan. Saya bukannya tidak kasihan melihat dia, tetapi saya merasakan ada yang tidak beres. Saya lalu meminta dia untuk mengijinkan saya memeriksa bola matanya. Nah!!! Ketahuan, deh!!!
Mungkin ini kedengarannya sadis, ya, tetapi saya hanya mengikuti suara hati saya saja. Saya harus memarahinya. Saya mengatakan padanya, “Kamu bercerita tentang segala kesusahan dan kepedihan yang membuat kamu menjadi seorang pengemis di jalanan, tapi saya tidak bisa kamu bohongi. Kamu adalah pecandu. Kamu menjadi pengemis karena kamu pecandu. Kamu susah dan pedih karena kamu pecandu. Kamu hamil pun karena kamu pecandu. Lebih baik kamu mengaku saja. Saya tidak suka dibohongi.”
Tatapan matanya langsung berubah. Dia yang tadinya memelas menjadi sangat garang. Dia menatap wajah saya dengan penuh kebencian. Saya pun kembali berkata padanya, “Kenapa? Kamu marah sama saya? Kamu marah karena apa yang saya katakan ini benar?!“
Semakin marahlah dia. Segala caci maki pun keluar dari mulutnya. Dia pun segera menyingkir dari tempat itu. Sepertinya dia tidak diterima juga oleh orang-orang di sekitar situ. Mungkin dia takut juga.
Kasus seperti dia bukan hal yang aneh bagi saya. Banyak anak-anak dari kalangan yang sebenarnya berkecukupan dan bahkan sangat mampu yang akhirnya malah menjadi seperti itu. Hanya untuk membeli barang-barang yang bisa memberikan mereka kenikmatan semua itu, mereka rela melakukan apapun. Mencuri, mengemis, merampok, membunuh, melacurkan diri, dan lain sebagainya. Coba saja sekali-kali pergi ke tempat para penjual jasa seks mangkal. Jangan membeli jasa mereka, ya!!! Lakukanlah pengamatan dan penelitian di sana. Biar semuanya lebih jelas. Berapa banyak di antara mereka yang melakukannya hanya untuk bisa membeli obat-obatan terlarang atau mabuk-mabukan. Tidak semua, namun banyak juga. Tanya, deh, ke mereka kenapa?! Alasannya pasti sangat klise. Mereka tidak akan menjawab terus terang pastinya. Selalu saja dialihkan kepada kemiskinan dan kemelaratan serta kepedihan dalam kehidupan mereka. Menjual rasa iba dan belas kasihan. Air mata mereka pun air mata buaya!!!
Sebetulnya yang membuat saya memiliki rasa iba karena mereka ini biasanya diusir dari keluarga. Tidak diterima lagi. Semakin-makinlah mereka susah. Sampai pada akhirnya mereka semakin juga terjerumus. Namun, buat saya ini bukanlah alasan juga untuk kemudian tidak mau melakukan perubahan. Siapa, sih, yang bisa menolong selain diri sendiri?! Biarpun banyak malaikat berusaha, tetapi bila diri sendiri pun tidak mau ditolong, bagaimana?! Apa mungkin bisa berubah?! Semua perubahan harus dari diri sendiri dulu. Tidak bisa dari orang lain!!!
Sudah sering saya dikadali buaya seperti ini. Saya pernah menuliskan cerita tentang seorang pekerja seks komersial berusia empat belas tahun yang saya “culik” dari sarang penyamun agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Sayangnya, dia hanya bisa bertahan dua minggu di rumahnya yang baru. Dia tidak bisa melepaskan diri dari kebiasaannya. Dia sudah merasa enak dengan uang yang didapatnya dari hasil menjual diri. Kalau sudah begini, mau bicara apa lagi?! Susah, kan?!
Tujuan saya menceritakan ini semua adalah agar kita semua mau untuk selalu menjadi objektif di dalam melakukan penilaian. Tidak hanya melihat segala sesuatunya dari satu sisi pandang saja. Ada banyak sisi pandang lain yang harus juga kita lihat dan perhatikan. Jangan pernah mengabaikan sisi pandang yang lain itu ataupun memungkirinya. Ini tidak akan membantu. Malah akan sangat merugikan. Negara ini membutuhkan banyak perbaikan. Sudah saatnya kita berpikir yang benar. Melakukan yang benar. Semuanya tidak boleh sembarangan. Harus benar-benar matang. Jika tidak, tidak akan pernah ada perbaikan di negara ini. Mau kita tetap seperti sekarang ini?! Nggak, dong, ya!!! Kita harus lebih baik lagi. Kita harus bisa mewujudkan segala cita-cita dan harapan bersama. Memiliki sebuah negara yang aman, tentram, adil, dan makmur. Iya, kan?!
Air mata buaya itu tidak akan pernah habis sampai kapan pun juga. Namun kita jangan pernah membiarkannya membanjiri pemikiran kita sehingga kita pun tenggelam di dalamnya. Lakukanlah sesuatu!!! Jadikan air mata buaya itu mengering dan terus mengering!!!
Semoga bermanfaat!!!
disadur dari Tulisan MARISKA..penulis berbakat di kompasiana
Tags: air mata, buaya
Posted in Nasional | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Sabtu itu Kota Bandung luar biasa padatnya. Seperti biasanya, pelancong sekitar Bandung dan Jakarta tumplek memenuhi kota Bandung. Warga Bandung sendiri banyak yang malah malas keluar rumah, kecuali mereka yang berkepentingan dengan bisnis tentunya.
Ada pemandangan unik yang menarik hari itu, yaitu banyaknya orang berseragam kaos merah-putih yang menjajakan kaos seperti yang dipakainya sendiri. Kaosnya seperti gambar di bawah ini.

Mereka yang menjajakan kaos itu dari macam-macam profesi: ada pelajar/mahasiswa, tukang koran, pedagang asongan, pengamen, penjual bunga potong, dll. Semua berteriak ramai sekali:
“Ayo Pak, Bu, Mas, mBak, Teteh, Akang, Neng, Om dan Tante, dukung gerakan Indonesia Bersatu Melawan Terorisme dan segala yang tak benar di Negara ini! Cintailah Indonesia! Cuma Empat Puluh Ribu Rupiah Harganya. Kaosnya bermutu baik. Ada juga bros cantik. Ayo..ayo.., mumpung masih ada barang!” Gayungpun bersambut. Dalam waktu sekejap saja begitu banyak orang berganti pakaian dengan kaos itu. Bandung menjadi lautan merah-putih.
Read the rest of this entry »
Tags: Barack Obama, Desain Kaos, I love you Full, Indonesia, Kaos, Lagu, Mbah surip
Posted in Nasional | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Sebuah pertanyaan besar sedang menanti untuk dijawab. Akankah kota Bandung akan menjadi Jakarta kedua?
Hampir bisa dipastikan semua orang dari seluruh pelosok Nusantara mengetahui kota yang bernama Jakarta, ibukotra dari Republik Indonesia. Bagi mereka yang belum pernah menapakkan kakinya di kota ini, pikiran pertama yang hampir bisa dipastikan muncul yakni sebuah anggapan bahwa Jakarta nerupakan kota yang maju dan modern. Pandangan ini tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya lengkap. Read the rest of this entry »
Tags: jakarta, kota, metropolitan, pemkot bandung
Posted in Pijar Jabar | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Produksi kedelai Papua 2010 menurut angka ramalan I (Aram) dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua diperkirakan mencapai 3.974 ton biji kering atau naik sekitar 50 ton (1,27 persen) dibanding produksi 2009 sebanyak 3.924 ton.
Sementara produksi 2009 itu turun 59 ton (1,48 persen) dibanding produksi 2008. Kenaikan produksi kedelai pada 2010 diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen sebanyak 360 hektar (71,71 persen) menjadi 3.604 hektare, sedangkan produktivitas tidak mengalami perubahan 11,03 kwintal/ha, kata Kepala Bidang Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Haryono, Jumat.
Ia mengatakan, persentase kenaikan produksi kedelai di Papua 2010 diperkirakan berbanding terbalik dengan produksi kedelai nasional yang mengalami penurunan 1,07 persen.
Jika dilihat dari kontribusi produksi kedelai Papua pada 2010, kontribusi yang diberikan sebesar 0,41 persen terhadap produksi jagung nasional, kemudian kontribusi produksi kedelai wilayah Luar Jawa sebesar 34,29 persen dan kontribusi produksi kedelai wilayah Jawa sebesar 65,71 persen.
Provinsi penghasil kedelai terbesar 2010 adalah Jawa Timur dan Papua hanya menempati peringkat ke-19 dari 32 provinsi penghasil kedelai di Indonesia setelah Bengkulu dan Sulawesi Tengah.
Sementara itu, jelas dia, produksi kedelai Papua tahun 2009 sebesar 3.924 ton biji kering atau turun sebanyak 59 ton (1,48 persen) dibandingkan dengan produksi kedelai tahun 2008.
Ia mengatakan, untuk daerah penghasil utama tanaman kedelai di Papua adalah Kabupaten Keerom, Nabire, Yahukimo dan Merauke.
Ke empat kabupaten tersebut memberikan kontribusi produksi kedelai terhadap total produksi kedelai di Papua masing-masing 32,38 persen, 11,86 persen, 11,41 persen dan 10,26 persen, katanya.
Tags: kedelai
Posted in Pijar Papua | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Siang itu di depan gedung sate ketika saya sedang meliput aksi demonstrasi mahasiswa bandung menolak kedatangan obama, nampak seorang kakek tua berseragam kuning di antara kerumunan para pendemo. Saya pun menghampiri dan mencoba menyapanya. ” Assalamualaikum, apa kabar Pak Sariban? ” ujar saya sambil menyodorkan tangan tuk bersalaman. “Waalaikum salam, maaf siapa ya?” tanya Pak Sariban sambil tersenyum. “Saya Ramdhan, boleh ngobrol sebentar Pak?” pinta saya pada beliau. “Mau ngobrol apa? jangan masalah politik ya!” tanya Pak Sariban. “Ah nggak pak, saya cuma pengen ngobrol tentang lingkungan” jawab saya. “Oh boleh boleh ” jawab beliau. Kemudian kami pun melangkah mencari tempat yang nyaman tuk berbincang.
Pak Sariban memang sosok fenomenal yang ada di kota kembang, dengan usianya yang tidak muda lagi beliau tiap hari beraksi tak kenal lelah memelihara lingkungan di sekitar jalan Pahlawan. Pensiunan dari RS Mata Cicendo ini berangkat dari rumah jam 8 pagi menyusuri jalanan sambil bersih-bersih dan mencabuti paku-paku yang menancap di pepohonan. “Pepohonan di Bandung penuh dengan beragam papan reklame, banyak pohon tersebut yang mati ” ujar Pak Sariban dengan roman muka yang sedih.
Pak Sariban yang sempat diajak kampanye oleh SBY pada pilpres 2004 lalu, sedikit mengkritisi penyediaan tong-tong sampah yang bertuliskan istilah yang tidak populer. “Coba lihat dibeberapa titik di kota Bandung ada tong-tong sampah yang maksudnya bagus, di satu titik disediakan 3 tong dengan sampah yang bertuliskan organik, an organik dan B3, tapi akhirnya ketiga tong tersebut malah penuh bercampur karena masyarakat kita kurang paham dengan tulisan tersebut. ” papar Pak Sariban sambil membetulkan posisi kacamatanya. “Kalau mau pake bahasa indonesia yang umum saja, misal sampah an organik ganti dengan istilah sampah kering tuk menampung kertas, kaca, plastik. Terus sampah organik ganti dengan tulisan sampah basah tuk menampung sisa makanan dan dedaunan serta yang terakhir jangan B3 tapi tulis Sampah Beracun pasti orang ngerti itu untuk sampah kayak gimana ” lanjut Pak Sariban.
Ketika saya mengabarkan puluhan pepohonan di jalan Soekarno Hatta ditebangi oleh sebuah biro iklan Pak Sariban menampakkan muka kecewa dan marah. “Wah itu mah pelanggaran hukum, harus dipenjarakan tuh, kok seenaknya aja ” ujar Pak Sariban dengan nada suara meninggi. “Memang kesadaran kita akan pelestarian lingkungan masih rendah, tentunya ini harus segera dibenahi, kalau bisa pendidikan tentang lingkungan diajarkan sedari dini, mesti dari taman kanak-kanak ” papar Pak Sariban.
Menurut Pak Sariban dalam melakukan aksinya ini beliau sangat didukung oleh sang istri tercinta. “Urusan dapur ngebul itu mah sudah ada yang ngatur” ujar Pak Sariban. Kemudian Menurut kakek tua berkacamata ini dalam memelihara lingkungan di jalan Pahlawan ini, beliau menghabiskan empat hingga lima buah sapu lidi yang besar. “Alhamdulillah kalau sapu mah dikasih sama Dinas Kebersihan, Bapak mah tinggal minta, kadang banyak juga masyarakat yang memberikan perhatiannya, ada yang memberi mulai seribuan hingga ada juga yang puluh ribuan ” lanjut Pak Sariban ketika ditanya darimana biaya operasional beliau dapatkan.
Menurut Pak Sariban untuk mengubah kebiasaan kurang terpuji dari masyarakat memang kita harus bekerja keras, selain harus diajarkannya tentang lingkungan di sekolah diperlukan juga sebuah keteladanan. “Ya mudah-mudahan apa yang Bapak lakukan bisa memberikan sedikit contoh bagi masyarakat ” kata Pak Sariban dengan bibir yang tersenyum.
– rmd –
Tags: bandung, bersih, lingkungan hidup, pejuang, sampah
Posted in Pijar Jabar | No Comments »