Setetes Hidup Marcus Wanma
Oleh: Muhtar Sadili
Penikmat Buku di RMBooks
Judul Buku: Mengantar Raja Ampat Ke Pentas Dunia, biografi Drs. Marcus Wanma
Penulis: Ayu Arman
Cetakan: I Februari 2010
Volume: vii + 191
Penerbit: Aura Publishing House
Drs Marcus Wanma patut bersyukur! Bisa merasakan pahit-getir pemekaran daerah. Menjabat Karetaker Bupati Raja Ampat 2003-2005, pasca pemekaran Kabupaten Sorong, Papua Barat. Mac, demikian Marcus biasa dipanggil, menjadikan Raja Ampat yang separoh lebih terdiri dari perairan itu, terus merangkak maju. Dan ini mengantarkannya dipercaya menjadi bupati sejak 2005 sampai sekarang.
Mac dikenal kaya hati dan penuh cinta. Meski ditinggal ibunya pasca kelahiran. Dan Bapaknya, Marcus Wanma, meninggal dunia ketika Mac berusia delapan tahun. Tapi masa singkat itu penuh ketulusan hati. Sekaligus kecintaan; “Mac, jangan kau sia-siakan ini hidup. Jejakkan kakimu di tanah kelahiranmu sebagai tanda kehadiran di dunia” kata sang ayah.
Pesan itu terpatri di setiap jengkal hidup Mac. Berani belajar dengan perut keroncongan. Dari sekolah rakyat yang diintrupsi oleh mencari sagu di hutan, sampai kuliah yang ngintip pesta rakyat, hanya untuk sekerat daging. Bahkan menjual kertas skripsi yang dicurat-coret dosen, untuk membeli lauk-pauk di tengah masa sulit perkawinan.
Solomina Sokay adalah istri sekaligus motivator Mac. Solomina begitu yakin suaminya bisa menjadi orang besar nanti. Merelakan waktu dan tenaga sampai Mac meraih gelar sarjana muda. Gelar ini kelak mengantarkan Mac menjadi pegawai negeri sipil.
Mac menjalani tugas berat PNS dengan penuh dedikasi dan integritas. Sebagai seorang umat kristiani, Mac menempatkan pekerjaan harus manfaat buat yang lain. Tidak menyisakah perbuatan cela moral, menukar jabatan untuk kesenangan dunia sesaat. Karier di PNS Mac adalah mata rantai untuk mewujudkan pesan sang ayah dulu.
Ketika pemekaran Sorong menjadi Raja Ampat tiba, Mac menjadi satu dari sekian calon Karetaker Bupati Raja Ampat. Dengan bekal dedikasi dan integritas tadi, Mac dipercaya memimpin Raja Ampat. Dengan bekal kapak dan parang dari ketua adat, Mac diminta menjadikan Raja Ampat yang penuh hutan, menjadi kota baru yang maju.
Tidak hanya “beban rimba” yang ditanggung. Tapi juga jarak antar kampung yang dibelah dengan laut ganas. Tak jarang untuk mengunjungi tiap distrik, Mac harus melawan ombak yang siap menerkam nyawa. Itu dijalani dengan keterbatasan alat transportasi.
Perlahan tapi pasti, Raja Ambat menggeliat dengan pembangunan infra struktur; fasilitas kesehatan, listrik, pendidikan dan bangunan pemerintah. Mengenalkan Raja Ampat yang kaya wisata bahari itu di berbagai event nasional dan internasional. Akhirnya wisatawan yang pernah mengirup bau pantai Raja Ampat menjadi mabuk kepayang.
Sudut indah di timur tanah air ini, menjadi surga di tangan kreatif penuh cinta dan harap. Raja Ampat di bawah kepemimpinan Mac adalah potret ideal bagi wilayah lain di Indonesia. Dipacu pembangunannya hingga bisa meraih kesejahteraan dan kemakmuran.
Tidak mustahil Mac lain akan bermunculan di bumi cendrawasih. Yang menyadari pembangunan bisa diraih dengan dedikasi dan integritas. Gigih memperjuangkan hidup dengan rasa syukur dan pantang menyerah. Mau berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain dengan kasih dan cinta. Untuk setetes hidup karunia Kuasa! Semoga.






