Melestarikan Olah Raga Tradisional Di Kalangan Pelajar
Lima pelajar putri tampak dihadang lima pelajar lain ketika hendak melewati tiga kotak segi empat ukuran 15 meter kali 4,5 meter selama 2×15 menit, dan kemudian sebaliknya yang dihadang menjadi penghadang.
Kemudian dihitung siapa-siapa yang lolos melawati penghadang, dan jika nilai sama dilakukan perpanjangan waktu selama 10 menit (2×5) tanpa istirahat.
Demikianlah, salah satu kegiatan sosialisasi olah raga tradisinal yang dilakukan di stadion Ranggajati, Sumber, akhir April 2010, yakni permainan “Hadang” yang di Cirebon biasa dinamakan “Sodor.”
Lima pelajar putri SMPN 2 Susukan Lebak Kabupaten Cirebon dan lima pelajar putri SMPN3 kota Cirebon tersebut sekilas tampak hanya berlari, melompat, menghindar. Tetapi olah raga yang digali dari leluhur dan penuh dengan kegembiraan tersebut memakai aturan sedemikian rupa, sehingga layak dipertandingkan.
Seorang pelajar kelas III SMP 2 Susukan Lebak Putri mengatakan, permainan “Hadang” yang di desanya dikenal dengan permainan “Sodor” tersebut sudah biasa dilakukan anak-anak hingga dewasa.
“Biasanya kami bermain pada malam hari ketika terang bulan. Permianan itu tidak banyak memakan tempat.” Katanya.
Bedanya dengan “Hadang” yang disosialisasikan oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga, yalah dari segi waktu, jumlah pemain dan luas lapangan, katanya.
“Kami biasa bermain waktunya tidak terbatas,jumlah pemain empat orang dan lapangan yang dibuat tanpa ukuran,” katanya seraya menambahkan sangat antusias dengan permainan yang dibakukan tersebut.
Guru Olah Raga SMP 2 Susukan Lebak M. Rukmana SPdm menambahkan, jenis Olah Raga “Hadang,” atau “Sodor” tersebut karena sifatnya riang, maka biasa dipertandingkan sewaktu jeda semester atau hari-hari besar nasional di sekolah tempat ia mengajar.
“Oleh karena olah raga ini sudah dikenal oleh para siswa, tampaknya mereka cukup gembira dengan adanya aturan yang dibakukan tersebut,” katanya.
Permainan itu dalam sosialisasi hanya dilakukan oleh pelajar putri, sedangkan dalam masyarakat pemainnya bisa laki-laki dan bisa putri dan bahkan adakalanya campuran, tambahnya.
Untuk permainan yang dibakukan, permainan bisa diselenggarakan di lapangan basket, lapangan bulu tangkis, tinggal menambah garis-garis yang sudah ada sebagai kotak permaian, ujarnya pula.
Empat Cabang
Sementara itu, Kabid Olah Raga Tradisional, Asisten Deputi Olah Raga Rekreasi Kementerian Olah Raga Suherman, mengatakan sosialisasi olah raga tradisional di Cirebon tersebut merupakan rangkaian kegiatan serupa yang akan dilakukan di sejumlah daerah.
“Sejauh ini kami memfukoskan pada empat cabang oleh raga tradisional dari 11 cabang yang digali dari leluhur yang sudah dibakukan,” katanya.
Keempat cabang olah raga yang disosialisasikan tersebut, yakni Enggrang, trompah panjang, dagongan dan hadang. Sedangkan cabang lain yang sudah dibakukan dan belum disosialisasikan adalah,gebuk bantal, lari balok, tarik tambang, patok lele, benteng, sumpitan dan gasing.
Untuk sementara dipilih empat cabang olah raga karena sebagian masyarakat Indonesia sudah mengenal, tetapi dengan nama yang berbeda dan peraturannya juga berbeda.
Oleh karena permainanan tersebut sudah dibakukan, maka perlu sosialisasi aturan permainan agar bisa dipertandingan secara nasional, katanya.
Menurut dia, sosialisasi olah raga tersebut selama tahun 2010 berlangsung di lima daerah, yakni Cirebon, Batam, Ambon, Kendari dan Kupang.
Sosialisasi serupa pernah diadakan di Pulau Samosir tahun 2009. “Kegiatan sosialiasi sengaja diacak di hampir seluruh Indonesia dengan tujuan agar olah raga tersebut cepat menyebar,” katanya.
Dikatakannya, tujuan jangka panjang sosialisasi tersebut memperkenalkan olah raga yang digali dari leluhur untuk dilestarikan sebagai budaya bangsa yang mudah, murah, meriah dan massal (4M).
Disamping itu, apabila sudah memasyarakat tidak menutup kemungkinan cabang olah raga tersebut ditingkatkan menjadi olah raga prestasi, seperti cabang pencak silat.
Menyangkut kesiapan juri dalam pertandingan itu tampaknya tidak ada masalah, karena hanya dengan pelatihan sehari cukup bagi guru olah raga untuk pemahaman.
Oleh karena cabang olah raga itu baru, kedepan dirasakan perlu semacam pelatihan buat juri-juri nasional, katanya.
Dipihak lain, dikatakannya, berdasarkan pengalaman sosialisasi cabang olah raga tradisional tersebut, ternyata ada daerah yang sama sekali belum mengenal seperti Egrang.
“Setelah diperkenalkan, ternyata mendapat sambutan hangat dari masyarakatnya,” katanya.
Bahkan sosialisasi olah raga tradisional seperti “Hadang” tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi pada negara tetangga seperti tahun 2009 di Univesitas Mindanao Philipina. “Mereka juga ada permainan serupa, tetapi jumlah pemainnya hanya empat, tetapi ketika kita kenalkan pemainannya lima mereka menilai lebih energik,” katanya.
Ia mengaharapkan, dengan adanya sosialisasi olah raga tradisonal tersebut akan menjadi pemicu bagi pelajar yang lain, bahkan masyarakat Cirebon pada umumnya untuk melestarikan budaya luhur bangsa tesebut.
Jenis olah raga tradisional pada umumnya tidak memerlukan biaya besar, sementara manfaatnya buat kebugaran luar biasa.
Ia mencontohkan, olah raga “Hadang,” pemainnya harus berlari, melompat dan menghindar. Berarti permainan itu memerlukan gerak tubuh, sementara para pemainnya cukup riang.
Kadis Kementrian Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon, Sukanda, menyambut baik sosialisasi olah raga tradisional yang dilakukan di Kabupaten Cirebon 26 dan 27 April 2010 tersebut dan berharap semua pelajar di daerahnya terpacu untuk melestarikan jenis olah raga tersebut.






