‘Pijar Aceh’ Articles
Written by Redaksi on 09 April 2010
“Fangare sunyinga Ternate” (Aku cinta Ternate) terucap bukan tanpa alasan.
Sebab tidak perlu rumus matematis untuk menjelaskan mengapa harus jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap bumi rempah-rempah; Ternate.
Bekas bandar rempah terbesar di Hindia Timur itu merupakan bagian terpenting sejarah abad pelayaran dunia.
Jejaknya tertinggal hingga kini dalam kebisuan benteng-benteng hingga bangkai kapal yang tenggelam ratusan tahun silam di laut-lautnya.
Inilah Ternate, sebuah negeri yang menjadi impian pelaut untuk menuju, sebuah negeri di Hindia Timur yang pertama di pijak oleh bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Seiring berjalannya waktu, ingatan dunia terhadap bumi Moloku Kie Raha (negeri dengan empat penguasa gunung) itu kian meredup.
Peristiwa kerusuhan di Maluku lebih dari 10 tahun silam turut menyumbang andil terhadap hilangnya citra Provinsi Maluku Utara sebagai destinasi yang aman dikunjungi wisatawan.
Namun, kini Ternate tengah membangun diri, berbenah menjadi kota pantai, dan siap didatangi wisatawan.
“Kami menawarkan wisata sejarah, wisata alam, dan wisata budaya,” kata Kabid Pemasaran Disbudpar Provinsi Maluku Utara, Nurmina Saleh.
Dalam Sejarah
Ternate adalah buku sejarah paling tebal yang bila dikaji mampu menceritakan banyak hal yang belum terungkap.
Di kota seluas 43.000 km2 setidaknya ada delapan titik jejak sejarah mulai dari Benteng Oranje, Benteng Kalamata, Batu Angus, Benteng Kota Janji, Benteng Gamlamo, Benteng Tolukko, Makam Sultan Badaruddin II, dan Sumur Layang.
Jangan lupakan pula Pelabuhan Ahmad Yani, di mana di tempat itulah bangsa Portugis dan Belanda pertama menginjakkan kaki di bumi pertiwi.
Dari pelabuhan tersebut, sejarah kemudian tertoreh di Benteng Oranje yang dibangun pada 1607 oleh Gubernur Jenderal Belanda, Matelief de Jonge.
“Benteng ini pernah menjadi pusat pemerintahan VOC di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieter Both sebelum kemudian dipindahkan ke Batavia,” kata Staf Pemasaran Disbudpar Provinsi Maluku Utara, Azis Maumanda.
Benteng Kalamata adalah saksi sejarah yang lain. Bangunan itu dibangun Portugis pada 1540 untuk menghadapi serangan Spanyol dari Rum Tidore.
Sedangkan Benteng Kota Janji adalah saksi bisu tewasnya Sultan Khairun di tangan Portugis yang membangun benteng tersebut pada 1522.
Eksistensi Portugis di Ternate sebenarnya bermula dari didirikannya bangunan bernama Benteng Gamlamo yang dibangun pada 1522 sebagai benteng pertama yang didirikan bangsa itu sejak kedatangan mereka pada 1515.
Portugis juga mendirikan bangunan pengintai di tepi pantai Ternate Utara bernama Benteng Tolukko pada 1545 yang kemudian direstorasi oleh Belanda pada 1610.
Dan jika ingin menyaksikan jejak kedahsyatan letusan Gunung Gamalama, maka Batu Angus adalah tujuan utama. Tepat di kaki Gunung Gamalama terhampar bebatuan hitam sisa letusan gunung itu pada 1673.
“Dulu bebatuan ini dianggap batu terkutuk tapi sekarang batu berkah karena hampir seluruh bangunan di Ternate menggunakan batu angus sebagai pondasinya,” kata Azis Maumanda.
Batu Angus juga merupakan tugu peringatan dan makam tentara Jepang yang gugur dalam pertempuran melawan sekutu pada Perang Dunia II.
“Disana pula ada Morotai sebuah tempat yang digunakan oleh Jenderal sekutu Mc Arthur menyusun strategi perang,” kata Azis.
Terpesona pantai
Maluku Utara adalah negeri dengan gugusan pulau di mana hanya sekitar 396 pulau yang dihuni penduduk, selebihnya sekitar 800-an pulau tak berpenghuni dan lebih dari 1.100 pulau tanpa nama.
Pantas bila negeri itu siap memikat pelancong dengan pantai-pantainya yang mempesona.
“Wisata bahari lebih sering menjadi tujuan utama wisman datang ke Ternate,” kata Permaisuri Ternate Boki Ratu Nita Budhi Susanti.
Selain susur pantai yang memikat, snorkling dan diving adalah tawaran yang sangat sesuai untuk lautnya yang bening dan transparan layaknya kaca.
Di sana terhampar pantai berpasar putih Tobololo-Tabanga, Pantai Tolire Kecil, Pantai Bobane Ici, Pantai Kastela, dan Pantai Sulamadaha yang berhadapan langsung dengan Pulau Hiri.
Ingat pemandangan yang tergambar di pecahan uang seribu rupiah? Itulah Maitara dan Tidore yang terpapar demikian jelas di hadapan Ternate.
Ternate juga cantik lantaran dihiasi sejumlah danau. Di Ternate Selatan terhampar Danau Laguna. Dan tepat di bawah kaki Gunung Gamalama 18 km dari pusat kota terdapat Danau Tolire Besar.
Banyak yang mencoba melempar batu ke tengahnya namun tak satu pun orang sanggup melakukannya. Tak jauh darinya tampak Danau Tolire Kecil yang berdampingan dengan Pantai Sulamadaha.
Wilayah itu sarat dengan budaya dan adat yang unik. Bambu Gila telah demikian kondang, tarian dengan bara api dan kemenyan yang melambangkan kebersamaan masyarakat Ternate.
Di luar itu masih ada tarian istana Dadansa, Masjid Sultan Ternate, Kedaton dan Museum Sultan Ternate, Genta Maria, Gereja Katholik Santo Willibrordus, Klenteng Sen Mun Yan, dan pohon cengkeh tertua di dunia; Cengkeh Afo yang bergaris tengah 198 m.
Jadi tak perlu bertanya mengapa “fangare sunyinga Ternate”. Sebab terlampau mudah untuk jatuh cinta bila singgah ke bandar rempah Hindia Timur; Ternate.
Tags: jatuh cinta, rempah rempah
Posted in Pijar Aceh, Uncategorized | No Comments »
Written by Redaksi on 07 April 2010
PLN Sumbagut mengungkapkan 11 pembangkit di Sumatera Utara (Sumut) mengalami gangguan menyusul adanya gempa berkekuatan 7,2 SR di Simelue Aceh, sekitar pukul 05.00 WIB.
“Gangguan di 11 pembangkit di Belawan itu membuat PLN Sumbagut kehilangan daya 800 MW dari 1.300 total daya listrik,” kata General Manager PT PLN Sumbagut, Dedy Pranoto di Medan, Rabu.
Manajemen sedang memperbaiki sistem itu agar pemadaman listrik yang terjadi di beberapa lokasi bisa diatasi.
Ia menjelaskan, akibat gempa itu pembangkit di Belawan hampir semua lepas, sehingga sistem Sumut kehilangan pasokan 800 MW dan hingga Rabu siang dalam proses pemulihan.
Hingga Rabu siang sekitar pukul 11.00 WIB, sebanyak 350 MW telah masuk sistem kembali dari 93 penyulang sehingga tinggal 10 penyulang lagi yang belum masuk.
“PLN terus bekerja memperbaiki mesin agar secara bertahap daya di pembangkitan Belawan pulih,” katanya.
Dia menjelaskan, akibat jaringan listrik belum pulih di Sumut, pasokan daya untuk Aceh terpaksa dihentikan sementara.
Humas PLN Pembangkitan Sumut, Marodjohan Batubara menjelaskan, akibat goncangan gempa, alat proteksi/pengaman mesin bekerja dan secara otomatis menghentikan mesin yang sedang beroperasi.
Dari 11 unit mesin pembangkit di Belawan, seusai gempa hanya satu yang hidup termasuk dua unit PLTU Labuhan Angin.
“Hanya mesin PLTA Lau Renun dan Sipan Sihaporas yang tidak terpengaruh/terganggu,” katanya.
Tags: Gempa, Gempa acehh, Gempa Sinabang, Pembangkit listrik terganggu, PLN
Posted in Pijar Aceh, Pijar Sumatera Utara | No Comments »
Written by Redaksi on 07 April 2010
Gempa besar kembali mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu, 7 April 2010 tepat pukul 05.15 WIB. BMKG mencatat kekuatan gempa ini mencapai 7,2 skala Richter, sedangkan Badan Survey Geologi Amerika Serikat menyebut gempa ini berkekuatan 7,7 skala Richter.
Titik pusat gempa berada sebelah tenggara Sinabang, 2.33 LU – 97.02 BT dengan kedalaman 34 km. Warga di Medan, Padang, dan Nias ikut merasakan guncangan gempa ini, terutama setelah terjadi tiga gempa susulan dengan kekuatan yang lebih rendah.
Gempa susulan pertama terjadi pukul 05.26 WIB dengan kekuatan 5,1 skala Richter. Gempa susulan kedua terjadi dua menit setelahnya dengan kekuatan 5 SR, dan gempa berikutnya pukul 05.34 WIB berkekuatan 5,2 SR.
Hingga saat ini belum dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan bangunan, namun BMKG mengimbau warga untuk tetap siaga karena gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami di Aceh.
Tags: Gempa, Gempa Aceh, Gempa Sinabang
Posted in Pijar Aceh | No Comments »
Written by Redaksi on 06 January 2010
Nanggroe Aceh Darussalam memiliki luas wilayah 57.365,57 Km2 dengan penduduk sebanyak 4.031.600 jiwa (tahun 2005). Kepadatan penduduknya sendiri mencapai 68,90 jiwa/km2. Secara administratif, sejak tahun 1999 provinsi NAD terdiri dari 17 kabupaten dan 4 kota dengan Banda Aceh sebagai ibukota provinsi. Salah satu kota di NAD yang memiliki keistimewaan adalah Kota Sabang yang berada di Pulau Weh. Pulau ini terletak di ujung pulau Sumatera dan merupakan zona ekonomi bebas serta daerah Indonesia yang terletak paling barat.
Pada tahun 2005, total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mencapai Rp. 34,94 triliun. Kontribusi terbesar datang dari sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai Rp. 8,14 triliun atau 23,3% dari total PDRB provinsi ini disusul sektor pertanian dan sektor industri pengolahan dengan nilai masing-masing sebesar Rp. 7,35 triliun (21,0%) dan Rp. 5,88 triliun (16,8%).
Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu provinsi yang kaya akan minyak, gas bumi, dan hasil tambang lainnya. Sektor pertanian juga memiliki potensi yang cukup besar di provinsi ini khususnya untuk tanaman perkebunan diantaranya kelapa sawit, karet coklat, pala dan cengkeh. Namun tidak demikian halnya dengan usaha perkebunan rakyat. Disamping itu sub sektor perikanan juga memegang peranan yang signifikan yaitu perikanan laut dan perikanan darat.
Perkembangan perekonomian Nanggroe Aceh Darussalam ditunjang oleh 3 kawasan industri yaitu Truman, Pasir Raja dan Labuhan Haji yang berada di Kabupaten Aceh Selatan. Prasarana jalan darat provinsi ini sepanjang 15.458,48 km yang terdiri dari jalan negara sepanjang 1.782,78 km dan jalan provinsi sepanjang 1.701,82 km. Untuk transportasi laut, terdapat 6 (enam) pelabuhan laut utama yaitu Sabang, Meulaboh, Lhokseumawe, Kuala Langsa, dan Malahayati yang sekaligus sebagai pelabuhan penyeberangan, pelabuhan penyeberangan yang lain adalah Pelabuhan Balohan. Provinsi ini juga memiliki Bandar udara yaitu Bandar Udara Sultan Iskandar Muda yang terletak di Kota Banda Aceh
Secara Umum Bidang Potensi Daerah Nanggroe Aceh Darussalam adalah sebagi berikut:
1. Perindustrian
Di bidang industri, daerah Aceh memiliki potensi cukup besar terutama industri hasil hutan, perkebunan, dan pertanian, seperti minyak kelapa sawit, atsiri, karet, kertas, serta industri hasil pengolahan tambang yang belum berkembang secara optimal. Jumlah industri di Aceh pada tahun 1998 menunjukkan data seperti berikut: industri dasar 33 unit dengan tenaga kerja sekitar 5.928 orang; aneka industri 189 unit de¬ngan jumlah tenaga kerja 14.873 orang; industri menengah dan kecil berjumlah 35.090 unit dengan tenaga kerja sekitar 129.477 orang. Total tenaga kerja yang bekerja di sektor industri berjumlah 150.278 orang, dengan tingkat pendidikan rata-rata sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Persoalan kualitas SDM menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh Pemda Tingkat I Aceh, untuk dapat mengembangkan sektor industri di daerah Serambi Mekkah ini.
Jenis industri yang ada meliputi industri makanan, minuman, dan tembakau; industri tekstil dan pakaian jadi; industri kayu, bambu, rotan, dan sejenisnya; industri kertas dan barang-barang dari kertas; industri kimia dan barang-barang dari kimia; industri logam dan barang-barang dari logam. Hasil produksi komoditas industri utama berupa semen, pupuk, kayu gergajian, moulding chips, plywood, dan kertas.
2. Pertanian & Perkebunan
Daerah Aceh memiliki potensi besar di bidang pertanian dan perkebunan. Pertanian di daerah Aceh meng-hasilkan beras, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, jagung, kacang kedelai, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Se-dangkan di bidang perkebunan, daerah Aceh meng-hasilkan coklat, kemiri, karet, kelapa sawit, kelapa, ko-pi, cengkeh, pala, nilam, lada, pinang, tebu, temba-kau, dan randu.
Produksi hasil pertanian di Aceh menunjukkan data-data berikut: luas panen padi sawah dan ladang pada tahun 1997 adalah 337.561 Ha dengan produksi 1.382.905 ton; luas panen jagung adalah 25.312 Ha dengan produksi 58.312 ton; luas panen ubi kayu adalah 4.795 Ha dengan produksi 59.782 ton; luas panen ubi rambat adalah 3.220 Ha dengan produksi 31.345 ton; dan luas panen kacang kedelai adalah 71.252 Ha dengan produksi 90.517 ton.
Jumlah panen hasil pertanian tahun berikutnya (1998) adalah seperti berikut: luas panen padi sawah dan ladang 365-892 hektar, hasil produksinya 1.486.909 ton; luas panen ubi jalar 2.750 hektar, hasil produksinya 26.401 ton; luas panen ubi kayu 5.477 hektar, hasil produksinya 65.543 ton.
Read the rest of this entry »
Tags: Aceh
Posted in Pijar Aceh | No Comments »