‘Pijar Jogyakarta’ Articles
Written by Redaksi on 10 May 2010
Perajin memerlukan informasi pasar ekspor untuk memperluas jaringan pasar di luar negeri, kata Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Mataram Yogyakarta Budi Sarwono, Jumat.
“Mereka butuh bantuan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat khususnya peran kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk memperoleh informasi pasar ekspor potensial,” katanya.
Menurut dia, peran KBRI diperlukan karena dinilai paling mengetahui kondisi pasar dan jenis komoditas yang diinginkan pasar di negara setempat.
“KBRI diharapkan bisa memberi informasi mengenai potensi pasar di suatu negara kepada pelaku bisnis khususnya perajin, untuk digunakan sebagai acuan mereka dalam melakukan ekspor produknya,” katanya.
Ia mengatakan pihaknya pernah menyurati KBRI di sejumlah negara untuk meminta data dan informasi tentang potensi pasar produk kerajinan di negara setempat.
Namun, sampai sekarang tidak semua kantor KBRI yang disurati itu merespons permintaan tersebut. Padahal, pihaknya memerlukan informasi pasar di sejumlah negara agar bisa mengekspor produk kerajinan sesuai potensi pasar setempat.
“Meski demikian, kami merasa gembira karena sejumlah KBRI merespons surat permintaan itu. Kami berharap KBRI lain mau menanggapi surat yang kami kirim,” katanya.
Menurut Budi, informasi mengenai potensi pasar di beberapa negara diperlukan bagi kesiapan pengiriman produk kerajinan yang akan diekspor serta untuk mengikuti pameran di luar negeri.
Ia mengatakan potensi ekspor produk kerajinan dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cukup bagus, apalagi produk kerajinan yang kompetitif di antaranya batik, kayu, bambu dan furniture. Produk kerajinan seperti itu berani bersaing dengan produk luar negeri, misalnya dari China.
“Keunggulan produk kerajinan jenis itu sulit ditiru produsen di luar negeri. Apalagi produk kerajinan tersebut diproduksi tidak secara massal,” katanya.
Menurut dia, minat pasar luar negeri terhadap produk kerajinan khas Yogyakarta cukup tinggi, sehingga perlu memasarkan produk itu lebih gencar, termasuk dengan mengikuti pameran internasional.
“Karena itu kami selalu mengikutkan perajin anggota kami dalam berbagai kegiatan pameran yang diselenggarakan di luar negeri. Pengalaman kami mengikuti pameran `Indo Fair` di Suriname menunjukkan masyarakat setempat menaruh perhatian besar kepada produk kerajinan asal DIY yang dipamerkan,” katanya.
Tags: exspor umkm, Kerajinan Daerah, perajin
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 08 April 2010
Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik pada Juli 2010 akan memberatkan kalangan industri yang berorientasi ekspor karena membengkakkan biaya produksi, kata Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo) Daerah Istimewa Yogyakarta, Yuli Sugianto.
“Nilai tukar rupiah yang terus menguat terhadap dolar AS sudah tidak menguntungkan para pengekspor, masak akan dibebani lagi dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL),” katanya, di Yogyakarta, Rabu.
Ia mengatakan jika pemerintah memaksakan diri menaikkan TDL pada Juli 2010 maka kalangan industri berorientasi ekspor bakal menderita kerugian karena biaya produksi semakin melonjak.
Kenaikan TDL, katanya, akan menambah biaya produksi dan menimbulkan serangkaian dampak lain yang menyebabkan barang Indonesia semakin mahal sehingga tidak memiliki daya saing di pasaran.
Ia meminta pemerintah meninjau kembali rencana menaikkan TDL pada Juli 2010 karena banyak pengusaha yang merasa belum siap mengatasi dampaknya. “Kami berharap pemerintah harus berhati-hati dalam menaikkan TDL karena dampak yang muncul akan besar,” katanya.
“Kami menyadari PLN butuh biaya besar dalam menyediakan energi listrik, namun sekarang belum saatnya TDL dinaikkan. Pemerintah harus melihat waktu yang tepat untuk menaikkan TDL agar tidak memberatkan industri,” katanya.
Kalangan industri berorientasi ekspor, kata Yuli, seharusnya mendapat proteksi pemerintah dengan memberi berbagai kelonggaran. Bukan malah dibebani dengan rencana menaikkan TDL yang akan menyusutkan volume produksi.
Oleh karena itu, katanya, rencana pemerintah akan menaikkan TDL pada Juli 2010 sebaiknya ditunda terlebih dahulu.
“Daya saing produk dalam negeri sekarang ini sedang tidak dalam kondisi baik. Jika pemerintah memaksakan diri menaikkan TDL maka industri terutama yang berorientasi ekspor akan terbebani,” katanya.
(rs/RS/ant)
Tags: Industri, Listrik, Tarif Dasar Listrik
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 05 April 2010
Kreasi pisau dengan hiasan motif batik yang diproduksi perajin pisau Diman warga Kasihan Kabupaten Bantul,Daerah Istimea Yogyakarta, banyak diminati masyarakat bukan hanya sebagai pisau fungsional tetapi juga hiasan rumah.
“Saya membuat pisau batik ini untuk meningkatkan daya jual pisau yang saya buat, sebelumnya saya hanya membuat pisau dapur biasa tetapi karena penjualan tidak bisa optimal maka saya membuat pisau dengan hiasan batik agar lebih menarik,” kata Sudiman di rumah produksinya Dusun Krengseng Bangunjiwo, Kasihan Bantul.
Ia mengatakan, meski terdapat hiasan batik tulis tetapi pisau hasil produksinya tersebut tetap sebagai pisau fungsional.
“Pisau batik ini tetap pisau fungsional sehingga masih bisa digunakan sebagaimana pisau dapur pada umumnya,” katanya.
Menurut dia, kreasi pisau batik ini telah dijalaninya sejak lima tahun lalu saat di kampungnya berkembang pesat kerajinan pisau dan ada sekitar 25 perajin pisau kecil masih bertahan.
“Saya kemudian mendirikan paguyuban Rukun Karya Lestari, dan sampai saat ini telah membuat aneka pisau dengan hiasan batik untuk meningkatkan daya jual,” katanya.
Pembuatan hiasan batik tulis dilakukan seperti membatik pada umumnya hanya saja media yang digunakan berupa kayu gagang pisau.
Tidak hanya itu, kini gagang pisau juga dibuat beranekaragam bentuk wayang misalnya Rama dan Shinta termasuk membentuk aneka shio atau bermacam-macam jenis binatang.
“Saat ini saya bisa memproduksi lima kodi atau 100 buah pisau batik setiap bulannya, dengan berbagai jenis ukuran,” katanya.
Pisau batik tersebut dijual dengan harga beragam, untuk ukuran besar dijaul di atas Rp50 ribu/buah, ukuran sedang Rp12 ribu,ukuran kecil Rp6 ribu serta ukuran paling kecil yang biasa untuk aksesoris dijual Rp3 ribu.
“Pembuatan gagang maupun tempat pisau menggunakan kayu klepu yang didatangkan dari Klaten. Kayu ini selain awet, bentuknya halus sehingga mudah untuk dibatik,” katanya.
Sudiman mengatakan, dirinya berkeinginan bisa membatik lempengan pisau bukan gagang maupun tempatnya.
“Saya ingin belajar membatik lempengan pisau di Jawa Barat karena di sanalah pusatnya,” katanya.
Ia mengatakan, pemasaran pisau batik tersebut baru di kota Yogyakarta terutama di Kawasan Malioboro dan toko batik ada di DIY.
“Harapannya ke depan bisa menembus pasar luar kota dan jika mungkin masuk pasar internasional,” katanya.
Tags: Batik Keris, Keris, Pisau
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 23 March 2010
Produk kerajinan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki peluang besar mengisi pasar cinderamata bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah ini, kata Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Mataram (ASPERAM) Yogyakarta Budi Sarwono.
“Jadi, peluang itu masih cukup besar pada 2010, sehingga perajin perlu mengembangkan inovasi produk agar lebih diminati wisatawan, baik mancanegara maupun wisatawan nusantara,”katanya di Yogyakarta, Senin.
Read the rest of this entry »
Tags: CInderamata, jogyakarta, kerajinan, Produk Kejainan tangan, silver
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 13 March 2010
Investor asal Belanda berencana membangun dermaga bertaraf internasional di Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), senilai Rp3,6 triliun, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul, Sugeng Sudaruno.
“Kami mendukung rencana investor asal Belanda yang ingin membangun dermaga bertaraf internasional di kabupaten ini, karena dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” katanya, di Bantul
Menurut dia, DKP Bantul akan mempelajari terlebih dahulu di titik mana dermaga bertaraf internasional akan dibangun. “Kami akan melihat dulu perkembangannya, semoga rencana pembangunan dermaga ini bisa terealisasi, ” katanya.
Read the rest of this entry »
Tags: dermaga, Investor, Pembangunan, Yogyakarta
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 12 March 2010
Bantul (ANTARA News) – Investor Belanda berencana membangun dermaga bertaraf internasional di Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), senilai Rp3,6 triliun, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul, Sugeng Sudaruno di Bantul, Jumat.
Menurut dia, DKP Bantul akan mempelajari terlebih dahulu di titik mana dermaga bertaraf internasional akan dibangun karena sebenarnya pembangunan dermaga bertaraf internasional di pantai yang terlalu landai dan arus ombaknya besar itu kurang tepat.
“Jika pembangunan dermaga direalisasi, maka akan membutuhkan perawatan rutin dengan dana besar. Jika boleh mengajukan usul maka lokasi yang tepat adalah di muara Sungai Opak atau di Pantai Samas, karena di dua lokasi tersebut hanya membutuhkan pengerukan rutin, sehingga dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Namun semua itu tergantung investornya,” katanya.
Investor asal Belanda berkeinginan membangun dermaga internasional di Pantai Pandansimo, karena memiliki ikatan historis dengan pantai ini. Kakek investor asal Belanda berasal dari daerah ini.
Read the rest of this entry »
Tags: bantul, dermaga, internasional, jogyakarta
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
(Vibizdaily-Polhukam)Puluhan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) demo menolak pemberlakukan Asean Chinese Free Trade Agreement (AC-FTA). Mereka menilai, AC-FTA akan melumpuhkan sektor industri lokal Indonesia.
Aksi itu digelar KAMMI DIY di Tugu
mulai pukul 14.00 WIB, Senin (25/1/2010). Aksi diikuti perwakilan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta.
Di tengah padatnya arus lalu-lintas siang itu, massa menggelar orasi secara bergantian. Selain membawa bendera lambang organisasi, massa juga mengusung beberapa poster, di antaranya bertuliskan ‘Tolak AC-FTA, Selamatkan UKM, AC-FTA sengsarakan buruh’. Saat menggelar aksi itu, mereka juga meneriakkan yel-yel ‘Tolak AC-FTA’.
Koordinator aksi Agus Purnomo dalam orasinya mengatakan kebijakan AC-FTA akan menghancurkan sektor perekonomian Indonesia terutama sektor UMKM. Hal itu disebabkan masuknya ribuan produk asal China ke Indonesia tanpa adanya bea atau tarif nol persen.
“Sebelum adanya tarif nol persen saja, produk Cina sudah banyak yang masuk ke pasaran Indonesia, apalagi kalau sudah bebas bea,” ungkap Agus.
Dia mengatakan industri lokal Indonesia belum semuanya siap menghadapi persaingan pasar bebas seperti itu. Dia mengkhawatirkan industri lokal terutama produk-produk UKM dan manufaktur akan mengalami kebangkrutan dan kolaps karena tidak mampu bersaing.
“Efek lain dari perjanjian ini adalah PHK terhadap kaum buruh sehingga akan menambah banyak jumlah pengangguran di Indonesia,” katanya.
Agus mengatakan pemerintah untuk meninjau ulang perjanjian tersebut demi menyelamatkan sektor perekonomian dan menyelamatkan buruh dari ancaman PHK.
“Kami menolak AC-FTA. Pemerintah harus memberikan proteksi terhadap produksi dalam negeri,” katanya.
Tags: aksi, mahasiswa
Posted in Pijar Jogyakarta | No Comments »