‘Pijar Kalimantan’ Articles
Written by Redaksi on 15 April 2010
Maskapai Batavia Air akan melakukan penerbangan perdana dengan rute Singapura ke Pontianak dan sebaliknya tiga kali dalam seminggu mulai Kamis (15/4).
Kepala Perwakilan PT Metro Batavia Air Kalimantan Barat Yunan Ismail saat dihubungi di Pontianak, Rabu mengatakan, penerbangan itu untuk lebih mengenalkan Pontianak dengan dunia internasional.
“Singapura merupakan salah satu kota utama di dunia yang berada dekat Kalbar. Singapura juga menjadi tujuan pariwisata dunia,” kata Yunan Ismail.
Menurut dia, untuk sementara rute tersebut pada setiap Selasa, Kamis dan Minggu. Batavia menggunakan pesawat jenis Airbus A319 dan akan mendarat di Bandar Udara Supadio Pontianak pukul 11.30 WIB.
Ia berharap dengan adanya pembukaan rute tersebut dapat memberi dampak ekonomi ikutan ke masyarakat Kalbar.
“Orang luar negeri hanya tahu Borneo, bukan Kalbar atau Pontianak,” kata dia.
Selama ini penumpang pesawat dari Singapura yang ingin ke Pontianak harus transit ke Jakarta terlebih dahulu.
Yunan Ismail melanjutkan, tidak menutup kemungkinan frekuensi rute tersebut bertambah menjadi setiap hari kalau peminatnya terus meningkat.
“Hunian hotel dapat meningkat, investasi ke Kalbar juga akan terkena dampaknya,” kata Yunan Ismail.
Ia optimistis pembukaan rute itu akan diminati karena potensi kedua daerah yang saling terkait. Kalbar dengan sumber daya alam dan Singapura sebagai pusat bisnis di Asia Tenggara.
Batavia merupakan maskapai yang paling tinggi frekuensi penerbangannya ke Kalbar dibanding maskapai lainnya. Dalam satu hari, sedikitnya ada lima penerbangan Batavia dari dan ke Pontianak. Selain itu, ada rute dari dan ke Kuching untuk hari-hari tertentu.
Tags: airplane, pesawat terbang
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 13 April 2010
BUMN India, National Aluminum Company Ltd (Nalco), akan menanamkan modal besar-besaran untuk mendirikan pabrik peleburan aluminium dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di Indonesia.
Pemerintah Indonesia dikatakan sudah menyetujui proyek investasi jutaan dolar AS oleh perusahaan India itu di kawasan Kalimantan Timur yang kaya batu bara, kata laporan media.
“Investasi itu akan dilaksanakan secara bertahap dan jumlahnya akan naik bersamaan dengan kemajuan proyek tersebut,” kata A.K. Srivastava, ketua dan direktur pelaksana Nalco seperti dikutip Economic Times di Kolkata.
Nalco berencana untuk mendirikan pabrik peleburan berkapasitas 500.000 metrik ton dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan kapasitas 1.250 MW di Kalimantan Timur dalam 48 bulan mendatang.
Investasi Nalco di proyek pembangunan kedua pabrik itu diperkirakan akan mencapai hampir tiga miliar dolar AS.
Unit sektor publik, di bawah Kementerian Pertambangan India, menandatangani nota kesepemahaman dengan pemerintah Indonesia pada Januari 2008 untuk memulai proyek tersebut.
Nalco akan bekerja sama dengan RAK Mineral & Metals dari Uni Emirat Arab dalam membangun fasilitas pelabuhan dan jalur kereta api di Indonesia untuk mengangkut batu bara itu, kata Srivastava.
Perusahaan yang berkantor pusat di Orissa itu memproduksi hampir 400.000 metrik ton baja setahun, yang membuatnya menjadi produsen aluminium terbesar ketiga di India.
Tags: India, Investasi
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 08 April 2010
Pelaku usaha kecil dan menengah koperasi dari 17 provinsi mengikuti Pameran Koperasi dan UKM Provinsi Kalimantan Barat 2010 yang dipusatkan di Pontianak Convention Center, 7 – 11 April.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalbar, Frans Suardi, di Pontianak, Rabu, mengatakan, pameran tersebut akan mendorong para wira usaha baru sehingga menjadi terobosan dalam menanggulangi tingginya angka pengangguran.
Provinsi yang ikut dalam pameran itu diantaranya, Nusa Tenggara Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Bali, Irian Jaya, Maluku, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Produk unggulan yang ditampilkan dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota antara lain berupa tekstil, meubel, kerajinan perak, kerajinan tangan, tenun, batik, serta berbagai panganan olahan.
Ia menambahkan, posisi Kalbar yang berbatasan dengan Sarawak membuat peluang usaha akan semakin besar ketika mengikuti pameran itu.
“Banyak pengusaha Sarawak atau pengusaha lokal yang siap memasarkan produk-produk yang berpeluang ke negeri tetangga,” kata Frans Suardi.
Selain itu, pelaku usaha dapat meningkatkan kualitas produknya sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas jangkauannya.
“Melalui perbaikan mutu produk, mulai dari kemasan, harga yang rasional dan menguntungkan serta menjaga kontinuitas produk sehingga di era pasar bebas sektor ini tetap bertahan menghadapi persaingan yang semakin ketat,” kata dia.
Gubernur Kalbar, Cornelis, yang diwakili oleh Plt Sekretaris Daerah, MH Munsin, mengatakan, perlu dilakukan pengembangan sumber daya lokal dengan sistem pengelolaan yang profesional, efektif, dan efisien serta dapat dipertanggungjawabkan guna menarik investasi.
MH Munsin menambahkan, pameran itu juga menjadi kesempatan untuk mempromosikan Kalbar yang tengah gencar menggaungkan tahun kunjungan wisata.
(if/IF/ant)
Tags: Pameran UKM di Pontianak, Partisipasi 17 Proposinsi ikut pameran UKM, UKM, UKM berkiprah
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 07 April 2010
Kalimantan Selatan (Kalsel) bakal menerapkan peraturan gubernur (Pergub) terkait pascatambang di provinsi yang terdiri 13 kabupaten/kota tersebut.
“Kita akan terapkan Pergub pascatambang kepada semua perusahaan pertambangan yang ada di Kalsel,” ujar Kepala Dinas Pertambangan (Distamben) Kalsel, Ali Muzanie di Banjarmasin, Rabu.
Bukan cuma terhadap pertambangan skala besar seperti pemegang Perjanjian Kerja Sama Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B), tapi juga skala kecil atau Kuasa Pertambangan (KP), lanjutnya usai rapat bersama Komisi III DPRD Kalsel.
Pergub pasca tambang itu mewajibkan semua perusahaan pertambangan membuat perencanaan peruntukan atau fungsi lahan eks galian tambang atau sesudah aktivitas mereka berakhir.
“Dengan adanya Pergub pascatambang maka diharapkan tidak ada satu perusahaan pertambanganpun meninggalkan eks galian tambang atau lahan bekas aktivitas mereka tanpa tanggung jawab,” tandasnya.
Sebagai contoh lubang-lubang besar bekas galian tambang walau tak mungkin ditutup kembali tapi harus jelas perencanaan peruntukan atau fungsinya ke depan baik terhadap masyarakat setempat maupun bagi upaya pemulihan lingkungan.
Contoh yang lebih jelas lagi, lanjutnya, seperti lubang besar eks galian tambang yang mau dijadikan tempat rekreasi atau obyek wisata atau untuk usaha perikanan air tawar harus ada kajian serta faktor pendukung.
“Jika tanpa kajian yang jelas serta kejelasan faktor pendukung maka perencanaan pascatambang itu patut dipertanyakan apakah betul atau hanya untuk bisa lepas dari tanggung jawab,” tuturnya.
Oleh karena itu, bagi perusahaan pertambangan yang baru mengajukan izin maka terlebih dahulu harus membuat perencanaan pascatambang sebagai salah satu persyaratan.
“Tanpa dokumen perencanaan pascatambang perusahaan tersebut tak akan mendapatkan izin untuk melakukan usaha pertambangan,” demikian Ali Muzanie.
Tags: Kalimantan Selatan news, Peraturan Gubernur masalah Tambang, Pergub, Tambang batu bara, Tambang di kalimantan selatan
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 07 April 2010
Pengawasan pertambangan di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) diminta lebih intensif guna mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah.
“Kami minta pengawasan pertambangan di Kalsel lebih intensif lagi,” kata Ketua Komisi III bidang pembangunan dan infrastruktur DPRD Kalsel, Gusti Perdana Kesuma dari FPG, di Banjarmasin, Rabu.
Ia mengaku kaget ketika mengetahui bahwa pengawasan yang dilakukan Dinas Pertambangan (Distamben) Kalsel terhadap kegiatan pertambangan di provinsinya belakangan ini cuma dilakukan satu kali dalam setahun.
“Jika memungkinkan, pengawasan pertambangan itu dilakukan tiap bulan atau sekurang-kurang sekali dalam tiga bulan, bukan cuma sekali dalam setahun,” katanya usai rapat kerja (raker) dengan Distamben Kalsel.
“Menurut Kepala Distamben Kalsel, Ali Muzanie, pihaknya sudah mengajukan anggaran untuk melakukan pengawasan pertambangan lebih satu kali dalam setahun, tapi pihak Beppeda provinsi setempat mencoret usulan tersebut,” katanya menambahkan.
Berkaitan dengan pencoretan itu, ia mengharapkan agar peningkatan pengawasan pertambangan mendapat perhatian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2010.
Ketua komisi yang juga membidangi pertambangan dan energi serta lingkungan hidup itu menaruh apresiasi terhadap perusahaan pertambangan yang melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik dan benar.
Berdasarkan keterangan Distamben Kalsel, areal yang diperuntukkan usaha pertambangan di provinsi yang luas wilayahnya sekitar 37.000 km2 itu, seluas 280.000 hektare lebih.
Dari areal peruntukan tambang itu, baru sekitar lima persen yang dilakukan eksploitasi dan dari luasan eks galian tambang tersebut sekitar 80 persen sudah dilakukan aktivitas reklamasi.
Tags: pengawasan tambang kalimantan, Tambang, tambang batu bara kalimantan, tambang di kalimantan, tambang kalimantan
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 07 April 2010
Berbagai jenis penganan khas Kalimantan Timur hasil buatan sejumlah industri rumah tangga di Kutai Timur (Kutim) mendapat perhatian besar sejumlah pengunjung yang memadati Pasar Malam Indonesia 2010 di Den Haag (Belanda).
Kepala Bagian Humas Pemkab Kutim Syafranuddin di Den Haag, Belanda, Selasa melaporkan bahwa sejumlah pengunjung baik WNI yang berada di Negeri Kincir Angin itu, Belanda dan Jerman mengaku berminat untuk membeli berbagai produk panganan khas Kaltim itu selama acara berlangsung pada 1 sampai 5 April 2010.
“Mereka ingin membeli berbagai jenis penganan khas Kaltim yang telah dikemas rapi setelah mencicipi sample yang kita sediakan,” katanya menuturkan tentang perhatian terhadap panganan khas Kaltim itu antara lain amplang ikan, manisan jahe, ting-tang serta manisan pisang.
Ribuan pengunjung memadati arena pameran dan sebagian di antaranya mengunjungi stan Pemkab Kutim.
Hal itu dibenarkan oleh petugas yang menjaga stan yang memamerkan berbagai produksi industri rumah tangga hasil binaan sebuah perusahaan pemegang izin PKP2B (Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batu Bara) PT. Indominco Mandiri.
“Kami terpaksa mengamankan beberapa sample karena semua pengunjung ingin mencicipinya,” kata Failu, salah seorang penjaga stan Kutim.
Pemkab Kutai Timur memanfaatkan stan yang disediakan panitia pada ruang B11 dan 12 untuk memamerkan berbagai potensi daerah, termasuk penganan khas Kaltim yang menjadi bagian dari pengembangan sektor kepariwisataan Kalimantan Timur.
“Selama Pasar Malam Indonesia 2010 berlangsung, Pemkab Kutim memamerkan berbagai potensi antara lain bidang kepariwisataan, industri, pertambangan dan agribisnis,” kata Kabag Humas Kutim Syafranuddin.
“Sekitar 1.000 keping VCD yang berisikan informasi, promosi serta potensi daerah telah habis kami bagikan untuk memperkenalkan Kutim,” kata Syafranuddin.
Tags: Panganan Khas, Panganan Khas Kalimantan
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 06 April 2010
Produksi batubara yang dieksploitasi sejumlah perusahaan pertambangan di Kabupaten Barito Utara (Barut) Kalimantan Tengah hingga Maret 2010 mencapai 216.378 metrik ton (MT), namun masih terdapat sejumlah kendala.
“Ratusan ribu ton batubara ini merupakan hasil produksi sembilan investor pemegang izin kuasa pertambangan (KP),” kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Barito Utara, Suriawan Prihandi di Muara Teweh, Selasa.
Suriawan menyebutkan produksi batubara di kabupaten pedalaman Kalteng itu masih mengalami kendala angkutan karena selama ini masih mengandalkan transportasi Sungai Barito.
Akibatnya, beberapa bulan lalu angkutan tambang batubara terhenti akibat kedalaman Sungai Barito surut sehingga tidak bisa dilayari tongkang dan kapal besar.
“Kendala alam ini membuat angkutan tambang batu bara melalui Sungai Barito tidak maksimal,” katanya didampingi Kabid Pengawasan Tambang, Juni Rantetampang.
Suriawan mengatakan, selain kendala alam, maka belum maksimalnya produksi batubara sejumlah investor juga terjadi akibat perizinan.
Bahkan sedikitnya 43 dari 95 izin perusahaan tambang batubara kabupaten pedalaman Sungai Barito pemegang izin KP dibatalkan karena harus menunggu perubahan Perda Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalteng.
Alasan pembatalan izin KP batubara yang diterbitkan sejak Agustus 2007 hingga Mei 2008 itu karena harus menunggu pengesahan RTRWP yang dijadwalkan tahun 2010 ini.
Kuasa pertambangan
Pengesahan itu tertunda karena hasil rekomendasi tim terpadu pemerintah pusat tidak sesuai dengan kondisi luas kawasan hutan di Kalteng. Pemprov Kalteng keberatan hasil rekomendasi itu.
“Kalau RTRWP sudah disahkan, perusahaan-perusahaan itu tetap mendapat prioritas untuk operasional kembali,” jelasnya.
Di samping itu juga terkendala izin pemanfaatan kawasan hutan dari Departemen Kehutanan sehingga ada dua perusahaan yakni PT Bharinto Ekatama menanam investasi batubara dan anak perusahaannya PT Indo Tambangraya Megah yang mengusahakan tambang batu gamping sejak Januari 2007 menghentikan kegiatan pertambangan untuk sementara.
PT Bharinto Ekatama merupakan investor pemegang izin perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) di Kabupaten Barut yang sudah memasuki tahap konstruksi di wilayah Kecamatan Teweh Timur seluas 22.000 hektare.
Sedangkan PT Indo Tambangraya Megah merupakan satu-satunya investor di kabupaten pedalaman Sungai Barito ini pemegang KP tambang batu gamping di wilayah Desa Benangin II Kecamatan Teweh Timur seluas 2.003 hektare saat ini sudah memasuki tahap eksploitasi.
“Kami mengharapkan masalah perizinan dan jalan tambang ini bisa segera diatasi sehingga pemanfaatan tambang batubara di daerah ini lebih optimal,” katanya.
Tags: batubara, Produksi Mineral, Sumber Daya Alam, Sumber energi
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 06 April 2010
Investor asal Vietnam siap berinvestasi di sektor pertanian di Kabupaten Kubu Raya dengan komoditas utama tanaman jagung.
“Investor Vietnam itu sudah bertemu dengan pemerintah daerah setempat dan diharapkan dapat terealisasi tahun ini,” kata Kepala Badan Koordinasi Pemadaman Modal Daerah Kalimantan Barat M Zeet Hamdy Assovie saat dihubungi di Pontianak, Minggu.
Ia menambahkan, Vietnam merupakan satu dari sejumlah negara asal investor yang tertarik di sektor tanaman pangan.
“Ada dari Korea Selatan, Jepang, China, yang juga mau berinvestasi di Kalbar,” katanya.
Menurut dia, Kalbar mempunyai kelebihan diantaranya areal yang masih luas dan tingkat kesuburan yang baik.
Selain itu, peluang investor asing menanamkan modalnya di sektor tanaman pangan semakin terbuka seiring kebijakan pemerintah pusat yang membolehkan hal itu.
“Meski maksimal 10 ribu hektare, tetapi BKPMD Kalbar tetap menyambut baik kebijakan itu,” kata dia.
Kalbar, lanjut dia, merupakan daerah yang masuk peringkat sembilan dari 10 besar minat investasi di Indonesia.
“Yang penting setelah minat tinggi, realisasi dari investasi itu yang dibutuhkan,” katanya.
Namun hal itu membutuhkan program percepatan pembangunan Infrastruktur serta kemudahan perizinan di tiap kabupaten dan kota.
BKPMD Kalbar kini tengah menyiapkan pelayanan terpadu satu pintu untuk regional. “Sekarang di uji coba di Kota Singkawang dengan jangkauan pelayanan Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Sambas,” kata M Zeet Hamdy Assovie.
Sedangkan secara nasional, BKPM menargetkan adanya 70 pusat pelayanan terpadu satu pintu di tahun 2010.
“Dengan sistem perizinan terpadu elektronik, Kalbar diharapkan mendapatkan jatah tiga sampai lima lokasi,” katanya.
Tags: Investor Vietnam Mau Tanam Jagung, jagung, Potensi investasi
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 31 March 2010
Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), H. Rudy Ariffin, mengungkapkan, kontribusi produksi padi asal provinsinya ke nasional, meningkat.
Gubernur mengungkapkan itu dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Tahun Anggaran 2009 dan akhir masa jabatannya 2005 – 2010 pada rapat paripurna DPRD provinsi setempat, di Banjarmasin, Selasa.
Dalam rapat paripurna DPRD Kalsel yang dipimpin ketuanya, Nasib Alamsyah dari Fraksi Partai Golkar (FPG) itu, gubernur menerangkan, kontribusi produksi padi provinsinya ke nasional tahun 2005 sebanyak 1.598.835 ton atau 2,95 persen dari total produksi padi nasional ketika itu.
Kemudian tahun 2009, kontribusi produksi padi Kalsel ke nasional menjadi 1.956.993 ton atau 3,07 persen dari total produksi padi nasional saat itu sebanyak 63.840.066 ton, yang berarti mengalami kenaikan 0,12 persen bila dibandingkan dengan 2005.
Begitu pula tingkat produksi padi Kalsel secara nasional mengalami peningkatan, yang pada 2005 berada di peringkat 10 menjadi sembilan pada tahun 2009.
Peningkatan produksi padi Kalsel selain karena bertambahnya luasan tanam, sebagian lagi disebabkan meningkatnya produktivitas, seperti pada 2005 setiap hektar (ha) mampu menghasilkan 34,79 kuintal, meningkat menjadi 39,93 kuintal atau naik 5,14 kuintal/ha pada 2009.
Selain itu, produksi jagung Kalsel sejak 2005 sampai 2009 juga mengalami peningkatan yaitu dari sebanyak 48.082 ton dengan luas panen 15.595 Ha menjadi 113.897 ton dengan luas panen 22.982 Ha.
Dengan produksi dan tingkat produktivitas yang tinggi, ketahanan pangan Kalsel dinilai baik, karena terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dengan ketersediaan cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata dan terjangkau, bahkan dapat membantu provinsi tetangga.
Oleh karena itu, Kalsel memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat pada Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) pada 18 Desember 2008 yang diserahkan kepada gubernur dan bupati yang berhasil meningkatkan produksi padi di atas 5% pada 2008.
Kabupaten di Kalsel yang berhasil meningkatkan produksi padi di atas 5% pada 2008 itu terdiri Kabupaten Banjar, Kotabaru, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
Tags: Kalimantan Selatan, Petani pAdi, Produksi padi
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »
Written by Redaksi on 24 March 2010
Dr. M. Anang Firmansyah, SP.M.Si
Peneliti Sumberdaya, BPTP Kalimantan Tengah
Pasir putih yang menawan tidak hanya dijumpai di tepi pantai saja, namun juga ada di tengah Pulau Kalimantan tepatnya di Kota Palangka Raya. Pasir putih atau pasir kuarsa di Palangka Raya meliputi 33,6 % atau seluas 89.955 hektar.
Warna pasir yang putih bersih merupakan bahan tambang galian C, biasanya digunakan untuk bahan bangunan berharga 250 ribu rupiah per truk.
Tak seindah warnanya, ternyata pasir kuarsa sangat miskin unsur hara, umumnya didominasi mineral SiO2, daya serapan terhadap pupuk anorganik dan air sangat rendah, dan banyak hal lain yang tidak menguntungkan untuk bertani.
Upaya petani yang tak kenal lelah memperbaiki lahan pasir kuarsa akhirnya membuahkan hasil, bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa petani Palangka Raya adalah jagonya di lahan tersebut. Berbagai sayuran seperti jagung manis, kacang panjang, pare, bayam, kangkung, bawang daun, mentimun, terong, tomat, cabai, dan beragam sayuran dataran rendah lainnya dapat tumbuh subur. Kunci keberhasilan bertanam sayuran di lahan pasir kuarsa adalah penggunaan kotoran ayam.
Kelompok Tani Sumber Rejeki di Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, beranggotakan 20 orang termasuk sukses mengoptimalkan pemanfaatan lahan pasir kuarsa. Menempati lahan tidur seluas hampir sepuluh hektar yang merupakan lahan pinjaman warga setempat. Jarak lokasi bertanam sayur kurang lebih lima kilometer dari pusat Kota Palangka Raya. Lokasi tersebut dibuka dan dimanfaatkan untuk bertani sayuran dirintis pertama kali oleh Hasan sejak tahun 1992.
Penggunaan kotoran ayam merupakan hal penting untuk kesuksesan bertani sayuran di lahan pasir kuarsa. Menurut mereka kotoran ayam memiliki pengaruh cepat sebagai bahan penyubur tanah dan tanaman. Saat ini harga kotoran ayam terus meroket yaitu Rp.14.000,-/zak, sedangkan mutu dan bobotnya makin menyusut karena banyak campuran serbuk gergaji dan hanya berisi dua pertiga bahkan setengah zak saja.
Sumber pupuk kandang lainnya adalah kotoran sapi, dan harganyapun lebih murah hanya Rp. 4.000/zak, namun petani tidak menggunakannya. Alasan utama karena pengaruhnya menyuburkan tanah dan tanaman terlalu lama sehingga tidak sesuai dengan umur sayuran yang relatif pendek antara 25 sampai 60-an hari. Hal yang merugikan lainnya dari kotoran sapi adalah banyaknya gulma yang ikut dalam bahan tersebut
2
Menurut Ujul (50 tahun) yang asli dari Kabupaten Rantau, Kalimantan Selatan dan sejak empat tahun lalu berusahatani di Jln. Bukit Pinang III, bahwa jagung manis menjadi primadona. Bertani jagung manis untuk kebutuhan bibit satu kemasan (0,5 kg) membutuhkan kotoran ayam 14 zak, Urea 6 kg, KCl 10 kg, kapur 2 zak, atau modal keseluruhan Rp. 865.000,-. Hasil dari produksi jagung manis satu kemasan tersebut menjadi 2 hingga 2,5 juta rupiah. Jika digunakan perhitungan rasio penerimaan dan biaya (R/C) mencapai 2,31 hingga 2,89, hal ini disimpulkan layak untuk dikembangkan.
Kendala rendahnya bahan organik tanah pasir kuarsa belum disikapi petani dengan pemanfaatan kompos yang bahannya banyak tersedia baik dari gulma maupun sisa panen yang hanya ditumpuk dan dibakar untuk diambil abunya. Kendala tersebut merupakan pekerjaan rumah peneliti dan penyuluh pertanian agar program komposisasi di lahan pasir kuarsa berjalan dengan baik, sehingga lahan pasir kuarsa makin produktif.
Tags: ayam, pertanian, pupuk
Posted in Pijar Kalimantan | No Comments »