‘Pijar Papua’ Articles
Written by Redaksi on 01 April 2010
Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat sepertinya ingin tetap mempertahankan pamornya sebagai kawasan bahari yang kaya akan potensi alam, budaya, dan seni. Pada ulang tahun Kabupaten Raja Ampat ke-7, pemda setempat menggelar Festival Bahari pada 2-9 Mei 2010.
Ketua Panitia Festival Bahari, Becky Rahawarin, Rabu (27/1/2010) kepada Kompas, mengatakan Festival Bahari digelar di sekitar ibu kota kabupaten di Waisai, sekitar 3 jam menumpang speedboat dari Kota Sorong. Festival ini mengundang kabupaten lain di Papua yang memiliki pantai untuk berpartisipasi. Selain itu, kabupaten tetangga seperti Wakatobi juga turut diminta memeriahkan kegiatan ini.
Beberapa rincian festival yaitu Lomba Foto Bawah Laut, Lomba Perahu Dayung, orientasi bawah air, olahraga pantai seperti voli dll, dan atraksi budaya lokal. Atraksi budaya lokal akan ditampilkan oleh masyarakat Raja Ampat dan peserta dari kabupaten lain.
Khusus Raja Ampat, Becky mengatakan masyarakat setempat siap mempertontonkan perahu tradisionalnya yang digunakan nenek moyangnya untuk mengarungi lautan. Masyarakat Raja Ampat juga akan mempertontonkan kebiasaan mengonsumsi buah mangrove. “Masih banyak atraksi khas yang mungkin baru pertama kali dipertontonkan,” ujarnya berpromosi.
Becky yang juga Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat ini mengakui Waisai tidak memiliki banyak tempat penginapan di daratan. Namun, panitia berusaha menyediakannya melalui kerja sama dengan operator-operator kapal, semacam live aboard sebagai hotel terapung.
Usai menikmati festival, lanjut Becky, wisatawan dapat melanjutkan kunjungan dengan mendatangi berbagai lokasi wisata alam Raja Ampat yang terkenal sebagai untaian jamrud di Papua. Ini karena Raja Ampat terdiri dari ratusan pulau-pulau kecil.
Festival Bahari Raja Ampat diagendakan menjadi kegiatan tahunan untuk meningkatkan arus wisatawan. Saat ini, di Papua terdapat Festival Lembah Baliem di Wamena Kabupaten Jayawijaya, Festival Asmat, Festival Kamoro di Timika, dan Festival Danau Sentani di Jayapura.
Tags: Festifal Raja Ampat, Festival Bahari
Posted in Pijar Papua | No Comments »
Written by Redaksi on 31 March 2010
Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mulai Minggu (28/3) akan menambah armada penerbangan ke Papua dari sebelumnya hanya mengoperasikan dua pesawat jenis Boeing menjadi tiga pesawat jenis Boeing.
Kepala Cabang Garuda Indonesia di Timika, Agung Prabowo, mengatakan, selain penambahan armada pesawat juga dilakukan perubahan rute penerbangan.
“Garuda melakukan pengembangan dan simplifikasi rute di Papua dengan tujuan utama dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen dan mengurangi jumlah kota transit,” jelas Agung.
Ia mengatakan, mulai 28 Maret penerbangan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 652 rute Jakarta ke Timika tidak lagi transit di Denpasar Bali tetapi akan transit di Makassar.
Pesawat yang sama dengan nomor penerbangan GA 653 akan kembali ke Jakarta dari Timika dengan terlebih dahulu transit di Makassar.
Menurut Agung, Garuda juga akan mengoperasikan dua pesawat baru jenis Boeing 737 seri 800 untuk melayani rute Jakarta-Makassar-Biak dan sebaliknya serta rute Jakarta-Makassar-Jayapura dan sebaliknya.
Adapun rute Timika-Jayapura dan sebaliknya untuk sementara ditutup.
Agung mengatakan, perubahan rute penerbangan tersebut berdampak pada perubahan jadwal penerbangan pesawat Garuda ke Timika.
Pesawat jenis Boeing 737 seri 300 akan berangkat dari Jakarta pada pukul 06.10 WIB dan tiba di Timika pada pukul 14.00 WIT. Pesawat yang sama akan berangkat dari Timika pukul 14.40 WIT dan tiba di Jakarta pukul 18.25 WIB.
Dengan pembukaan rute baru tersebut, Agung berharap tingkat pengisian kursi pesawat Garuda akan meningkat dari selama ini yang mencapai 60-70 persen karena kapasitas tempat duduk yang tersedia sepenuhnya diisi oleh penumpang dari Timika.
Sehubungan dengan itu, demikian Agung, Garuda telah membuka harga tiket promo tujuan Timika-Makassar yang akan berlaku mulai 28 Maret dengan harga terendah Rp1.435.000 dan Rp1.655.000.
Tags: Garuda Indonesia, Penerbangan ke papua, Rute garuda
Posted in Pijar Papua | No Comments »
Written by Redaksi on 17 March 2010
Produksi kedelai Papua 2010 menurut angka ramalan I (Aram) dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua diperkirakan mencapai 3.974 ton biji kering atau naik sekitar 50 ton (1,27 persen) dibanding produksi 2009 sebanyak 3.924 ton.
Sementara produksi 2009 itu turun 59 ton (1,48 persen) dibanding produksi 2008. Kenaikan produksi kedelai pada 2010 diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen sebanyak 360 hektar (71,71 persen) menjadi 3.604 hektare, sedangkan produktivitas tidak mengalami perubahan 11,03 kwintal/ha, kata Kepala Bidang Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, Haryono, Jumat.
Ia mengatakan, persentase kenaikan produksi kedelai di Papua 2010 diperkirakan berbanding terbalik dengan produksi kedelai nasional yang mengalami penurunan 1,07 persen.
Jika dilihat dari kontribusi produksi kedelai Papua pada 2010, kontribusi yang diberikan sebesar 0,41 persen terhadap produksi jagung nasional, kemudian kontribusi produksi kedelai wilayah Luar Jawa sebesar 34,29 persen dan kontribusi produksi kedelai wilayah Jawa sebesar 65,71 persen.
Provinsi penghasil kedelai terbesar 2010 adalah Jawa Timur dan Papua hanya menempati peringkat ke-19 dari 32 provinsi penghasil kedelai di Indonesia setelah Bengkulu dan Sulawesi Tengah.
Sementara itu, jelas dia, produksi kedelai Papua tahun 2009 sebesar 3.924 ton biji kering atau turun sebanyak 59 ton (1,48 persen) dibandingkan dengan produksi kedelai tahun 2008.
Ia mengatakan, untuk daerah penghasil utama tanaman kedelai di Papua adalah Kabupaten Keerom, Nabire, Yahukimo dan Merauke.
Ke empat kabupaten tersebut memberikan kontribusi produksi kedelai terhadap total produksi kedelai di Papua masing-masing 32,38 persen, 11,86 persen, 11,41 persen dan 10,26 persen, katanya.
Tags: kedelai
Posted in Pijar Papua | No Comments »
Written by Redaksi on 16 March 2010
Dubes RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh di Berlin, Eddy Pratomo, mengakui Papua mempunyai wilayah yang cukup luas yang dikenal dengan suku Asmat dan Lembah Baliem sangat dikenal di Eropa khususnya di Jerman.
Papua dan Borneo sangat dikenal ketimbang Pulau lainnya seperti pulau Jawa dan Sumatera, ujar Dubes Eddy Pratomo ketika menerima rombongan Papua yang dipimpin Bupati Kabupaten Jaya Wijaya di Wemena Wempi Wetipo didampingin DR Weiglein dari Rumah Papua di Eropa dalam acara ramah tamah di gedung KBRI Berlin.
Kehadiran masyarakat Papua khususnya Kabupaten Jayawijaya di ITB Berlin selain mempromosikan pariwisata khususnya obyek wisata di Lembah Baliem dan suku Asmat juga obyek wisata lainnya seperti di Carstenesz, yang dikenal dengan Gunung Es.
Dubes Eddy Pratomo mengatakan, ia merasa bangga masyarakat Papua dengan kehadiran tim kesenian Papua di Berlin yang sangat aktif dalam upaya menjalani “soft diplomasi” yaitu diplomasi budaya dan pariwisata.
Menurut Dubes, pariwisata merupakan salah satu prioritas pembangunan di Indonesia, untuk itu ia mengajak masyarakat Papua bersama sama mempromosikan Papua tidak saja di pameran pariwisata terbesar di dunia ITB Berlin tetapi juga di kota lainnya di Eropa seperti Brusel dan Belanda.
Diakuinya, pameran pariwisata ITB Berlin yang merupakan terbesar di dunia merupakan pameran bergensi yang diharapkannya wakil dari Papua untuk terus berpatisipasi aktif dalam pameran di masa datang.
Dalam kesempatan itu, Dubes juga menyampaikan ucapan selamat dengan penghargaan yang diterima Dinas pariwisata Papua dalam ITB Berlin .
Menurut Dubes, Papua merupakan satu propinsi dengan wilayah yang amat besar dalam rombongan kesenian masyarakat Papua yang berjumlah sekitar 30 orang itu merupakan duta budaya yang tengah menjalani “second track” diplomasi.
Dubes juga menyambut hangat dengan berdirinya Pusat Promosi Papua, atau Papua Promotion House Europe di daerah Gelnhausen, Jerman yang diresmikan Gubernur Barnabas Suebu, bulan Maret 2009.
Menurut Dubes, pusat promosi Papua yang menempati bekas istana Furstliches Palais Meerholz yang dibangun sekitar tahun 1697 itu akan dijadikan Museum Papua yang menyimpan berbagai barang kerajinan dari Papua dan jadi promosi budaya Papua.
Sementara itu, Bupati Kabupaten Jayawijaya di Wemena Wempi Wetipo mengatakan, Papua merupakan bagian dari negara kesatuan RI yang juga ingin maju dan mengembangkan obyek wisata yang ada.
Untuk itu, Bupati mengatakan, selama ini dikenal obyek wisata di pulau Bali atau daerah lainnya, namun Tuhan menaruh potensi yang besar dengan kekayaan alamnya Papua dan keindahan alamnya.
Dikatakannya, kehadiran masyarakat Papua di Berlin selain mengikuti pameran pariwisata terbesar di dunia ITB Berlin juga membawa misi kesenian Indonesia yang tampil dalam panggung di papilion Indonesia.
Bupati juga sangat menghargai kesediaan Dubes Berlin menerima rombongan misi kesenian dari Papua yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diharapkannya hal tersebut akan terus berlangsung.
Dikatakannya, kehadiran stand Papua Indonesia di pameran pariwisata yang diikuti sekitar 108.000 “trade visitors”, 10.000 “exhibitors” dari 180 negara dalam mempromosikan dan memajukan pariwisata di Papua.
Menurut Bupati, kehadiran stand Papua tidak lain untuk memajukan wisatawan di Papua khususnya di Lembah Baliem dalam pameran yang dalam penyelenggaraan tahun ini Turki menjadi “partner country” ITB Berlin.
Diharapkan, dengan adanya penerbangan langsung dari Eropa ke Indonesia dengan maskapai penerbangan Garuda akan dapat mempersingkat perjalanan mereka ke Papua yang disebutkan cukup jauh dari Eropa.
Dalam kesempatan jamuan makan malam, Dubes mendapat kenang kenangan berupa patung kayu Wemawe Komoro yang melambangkan kehidupan manusia hasil karya pengrajin yang melakukan demo membuat patung di stand Papua selama pameran berlangsung.
Tags: Berlin, Duta Besar, Eropa, Irian, Kreasi Seni, papua, Seni
Posted in Pijar Papua | No Comments »
Written by Redaksi on 25 January 2010
Masyarakat Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, memiliki tiga jenis rumah adat, satu di antaranya “kombo” yang berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi laki-laki remaja.
Kepala Balai Arkeologi Jayapura, M.Irfan Mahmud,MSi di Jayapura, mengatakan, di dalam rumah tradisional “kombo” itulah, masyarakat Sentani mengembangkan nilai-nilai budaya yang mereka miliki.
“Masyarakat Sentani mengenal tiga jenis bangunan rumah yang masing-masing memiliki fungsi dan aturan kebiasaan,” katanya.
Dia menjelaskan, kombo adalah rumah adat yang berfungsi sebagai asrama, ruang atau tempat di mana para remaja lelaki diajarkan mengenai nilai-nilai religi dan pendidikan serta keterampilan hidup.
Irfan mengatakan, di dalam kombo inilah, para remaja suku Sentani diajarkan mengenai asal usul dewa yang disembah, keberadaan roh-roh dan arwah nenek moyang mereka.
Selain itu, mereka juga diajarkan cara berburu, mengenali dan menggunakan peralatan berburu, berkebun, menokok sagu, memancing serta berperang.
“Itu semua merupakan `life skill` atau keterampilan hidup yang harus dikuasai sebagai bekal hidup, terutama bagi laki-laki sebagai pemimpin di masyarakat dan keluarga agar siap dalam menangani kehidupan mereka selanjutnya,” ujar Irfan.
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan perilaku dan sikap, juga menjadi materi pendidikan yang diajarkan di rumah tradisional kombo yaitu kedisiplinan, saling menghormati, tolong menolong dan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.
Pendidikan yang dilakukan di kombo, kata dia, hanya ditujukan bagi anak remaja laki-laki, sementara anak perempuan tetap ditempatkan bersama orang tua. Pendidikan yang dilakukan di kombo hanya pada malam hari dan berlangsung selama satu tahun.
Untuk bisa keluar dari kombo, Irfan mengatakan, para remaja harus melalui masa ujian di hadapan “ondofolo” (kepala suku).
“Jika ada remaja yang belum memenuhi standar pendidikan, maka dia harus kembali masuk ke kombo sampai dipandang mahir. Sedangkan yang lulus maka mereka dipandang sudah dewasa dan bisa menerima tanggung jawab sosial seperti menikah,” katanya.
Pada masa kini, remaja laki-laki sudah tidak lagi melalui masa inisiasi di kombo. Seiring dengan jalannya pembangunan, pendidikan bagi seluruh anak-anak Sentani dilakukan di sekolah formal milik pemerintah.
Selain kombo, masyarakat Sentani mengenal rumah “obee” sebagai balai adat dan “khogo” untuk rumah tinggal.
Tags: kombo, papua, sentani
Posted in Pijar Papua | No Comments »